Redaksi
Redaksi

Rabu, 23 September 2026 17:12

Pemkab Takalar Gandeng ILO dan Swiss Dorong Digitalisasi Petani Rumput Laut

Pemkab Takalar Gandeng ILO dan Swiss Dorong Digitalisasi Petani Rumput Laut

Pemkab Takalar mendorong digitalisasi petani rumput laut untuk membuka akses informasi harga, pembiayaan dan pasar sekaligus meningkatkan kualitas produksi.

TAKALAR, BUKAMATANEWS — Pemerintah Kabupaten Takalar mendorong petani rumput laut untuk naik kelas melalui pemanfaatan teknologi digital dan penerapan praktik bisnis berkelanjutan. Langkah tersebut diarahkan untuk membuka akses petani terhadap informasi harga, pembiayaan, pasar, serta pencatatan usaha yang lebih terukur.

Komitmen itu disampaikan Bupati Takalar Daeng Manye saat menghadiri Sosialisasi e-SEAWEEAD Field Visit Program Digitalisasi Petani Rumput Laut di Desa Ujung Baji, Kecamatan Sanrobone, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah dengan sejumlah pihak yang terlibat dalam pengembangan sektor rumput laut, termasuk Duta Besar Swiss untuk Indonesia Konstantin Obolensky, jajaran International Labour Organization (ILO), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta perwakilan kementerian.

Di hadapan para peserta, Daeng Manye memaparkan potensi sektor rumput laut sekaligus berbagai persoalan yang masih dihadapi petani di Kabupaten Takalar.

"Takalar ini daerah agromaritim. Garis pantai kita 74 kilometer. Empat wilayah jadi sentra rumput laut, yaitu Sanrobone, Mappakasunggu, Galesong, dan Tanakeke. Ribuan warga kita hidup dari rumput laut," tegas Daeng Manye.

Lima Persoalan Petani Rumput Laut

Menurut Daeng Manye, besarnya potensi rumput laut Takalar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Sejumlah persoalan di tingkat usaha tani masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara bersama.

Ia mengidentifikasi sedikitnya lima persoalan utama yang dihadapi petani rumput laut.

Pertama, keterbatasan akses terhadap modal, pasar, dan informasi harga. Kondisi tersebut membuat petani memiliki ruang yang terbatas untuk mengambil keputusan usaha berdasarkan perkembangan pasar.

Kedua, harga rumput laut yang fluktuatif. Perubahan harga dapat memengaruhi pendapatan petani dan menyulitkan mereka memenuhi kewajiban pinjaman ketika harga komoditas mengalami penurunan.

Ketiga, persoalan penyakit ice-ice yang dapat menyebabkan bagian ujung rumput laut memutih dan berdampak terhadap kualitas serta kadar karagenan.

Keempat, proses pengeringan yang masih dilakukan secara tradisional, termasuk dengan memanfaatkan area di pinggir jalan.

Kelima, penggunaan bibit yang masih banyak mengandalkan pola turun-temurun dan belum optimal memanfaatkan bibit hasil kultur jaringan.

Berbagai persoalan tersebut dinilai membutuhkan intervensi yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga mencakup akses pembiayaan, informasi pasar, teknologi, hingga penguatan rantai usaha.

Digitalisasi Buka Akses Harga dan Pembiayaan

Pemkab Takalar melihat digitalisasi sebagai salah satu instrumen untuk membantu menjawab persoalan tersebut.

Dalam kegiatan itu, Daeng Manye melihat langsung penggunaan aplikasi digital oleh petani Thomas, Arman, dan Umar. Aplikasi tersebut dimanfaatkan untuk memantau harga secara real-time sekaligus mencatat produksi, penjualan, dan pinjaman.

Menurut Daeng Manye, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu petani memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha secara lebih terukur.

"Inilah yang kita mau. Petani kita harus melek digital. Dengan digitalisasi, petani dapat info harga lebih cepat, akses pembiayaan lebih mudah, pasar lebih terbuka. Ini solusi untuk menjawab lima persoalan tadi," ujar Daeng Manye.

Pemanfaatan aplikasi tersebut juga diharapkan dapat mendorong petani mulai membangun pencatatan usaha yang lebih tertib. Data produksi, penjualan, dan pembiayaan yang terdokumentasi dapat menjadi bagian dari penguatan tata kelola usaha petani.

Kolaborasi Pemkab dan Pemerintah Swiss

Daeng Manye menyambut baik kolaborasi yang melibatkan ILO, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), OJK, Kospermindo, dan PROMISE2 IMPACT yang didukung Pemerintah Swiss melalui SECO.

Menurutnya, kolaborasi tersebut sejalan dengan visi Pemkab Takalar untuk memperkuat sektor agromaritim sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir.

Bupati menegaskan, pemerintah daerah akan mengawal pelaksanaan program agar manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat dirasakan langsung oleh petani.

"Kehadiran ILO dan Kedubes Swiss memberi spirit baru bagi petani kita. Atas nama Pemerintah Kabupaten Takalar, saya menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Swiss, ILO, OJK, kementerian, perbankan dan semua pihak yang telah mendukung Takalar. Tujuan akhirnya satu, kualitas rumput laut naik, kesejahteraan petani pesisir juga naik," pungkasnya.

Perkuat Ekosistem Rumput Laut Takalar

Pengembangan digitalisasi petani rumput laut menjadi salah satu upaya memperkuat ekosistem komoditas tersebut dari tingkat produksi hingga pemasaran.

Dengan dukungan teknologi, petani diharapkan tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi pasar, pembiayaan, dan jejaring usaha.

Program tersebut juga diharapkan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas budidaya, penanganan penyakit, perbaikan proses pascapanen, serta penggunaan bibit yang lebih berkualitas.

Kegiatan Sosialisasi e-SEAWEEAD Field Visit turut dihadiri Dubes Swiss Konstantin Obolensky, Director ILO Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh, Chief Technical Advisor ILO Violeta Vulovic, Deputi Komisioner OJK Sukarela Batunanggar, Kepala OJK Regional 6 Sulampua Darwisman, Plt Deputi KLH Nur Adi Wardoyo, Kabiro Bappebti Kemendag Dia Sandhita Arisanti, Kadis Kelautan dan Perikanan Takalar Nasruddin A, Camat Sanrobone Irham L, serta Kepala Desa Ujung Baji.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Pemkab Takalar #Petani Rumput Laut

Berita Populer