Redaksi : Rabu, 23 September 2026 15:28

BANTEN, BUKAMATANEWS — Setelah lebih dari sepekan operasi pencarian dihentikan, kabar mengenai salah satu awak kapal Arupadhatu yang hilang di Selat Sunda akhirnya terungkap. Surakman (60), anak buah kapal (ABK) yang membawa lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, ditemukan meninggal dunia di wilayah Pulau Enggano, Bengkulu.

Identitas jasad tersebut dipastikan melalui pemeriksaan DNA yang dicocokkan dengan data genetik anggota keluarganya. Penemuan ini menjadi perkembangan terbaru dalam kasus hilangnya kapal Arupadhatu yang membawa delapan orang penumpang dan awak kapal.

Jasad Surakman ditemukan pada Sabtu (12/9) di wilayah Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Informasi penemuan tersebut kemudian dikoordinasikan dengan pihak kepolisian di Banten dan Bengkulu untuk proses identifikasi.

"Pada hari Sabtu, hari kelima pencarian, kita mendapatkan informasi dari Bengkulu, bahwa di sana di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, ditemukan seorang jenazah Mr X," ujar Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Serang, Rabu (23/9).

Identifikasi DNA Pastikan Jasad Merupakan Surakman

Hengki menjelaskan, jasad yang ditemukan di Pulau Enggano dibawa menggunakan pesawat Cessna menuju RS Bhayangkara Polda Bengkulu. Proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi antara Polda Banten dan Polda Bengkulu.

Pemeriksaan menggunakan data antemortem dan postmortem, termasuk pencocokan data genetik anggota keluarga delapan orang yang berada di dalam kapal Arupadhatu.

Hasil pemeriksaan DNA kemudian memastikan bahwa jasad tersebut merupakan Surakman, salah satu awak kapal yang hilang.

"Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan DVI, secara genetik, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK Kapal," kata Hengki.

Konferensi pers tersebut turut dihadiri Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Basarnas Banten Al Amrad.

Operasi SAR 10 Hari Berakhir Tanpa Temuan Kapal

Sebelumnya, operasi SAR untuk mencari lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan pada Kamis (17/9).

Kapal Arupadhatu diketahui membawa lima jurnalis yang hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapal tersebut hilang kontak setelah berangkat dari dermaga di Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9).

Selama 10 hari pencarian, tim SAR gabungan belum menemukan kapal cepat Arupadhatu 1 maupun tanda-tanda keberadaan delapan orang yang berada di dalamnya.

Operasi pencarian melibatkan unsur Basarnas dari Banten, Lampung, hingga Bengkulu. Namun, hingga operasi ditutup, belum ada temuan yang mengarah pada keberadaan kapal dan seluruh penumpangnya.

Keluarga Gelar Tabur Bunga di Gunung Anak Krakatau

Setelah operasi SAR dihentikan, keluarga jurnalis dan awak kapal Arupadhatu 1 menggelar tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Jumat (18/9).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka bagi para korban yang hilang dalam perjalanan peliputan.

Adapun tiga awak kapal yang berada di dalam speedboat tersebut adalah Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) yang bertugas sebagai pemandu atau guide.

Sementara itu, lima jurnalis yang berada di dalam kapal disebut berasal dari sejumlah media, termasuk jurnalis lepas.

Dalam pernyataan resminya, organisasi profesional Pewarta Foto Indonesia (PFI) menyebut para jurnalis yang berada di dalam speedboat tersebut umumnya merupakan wartawan foto.

Identitas profesional jurnalis yang disebutkan dalam pernyataan PFI meliputi:

M Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto Kantor Berita Antara).

Ari Basuki (Pewarta Foto Merdeka.com).

Yudistiro (Pewarta Foto iNews.id).

Firman (Jurnalis Anadolu Agency).

Donal (Jurnalis lepas).

Penemuan jasad Surakman melalui proses identifikasi DNA menjadi perkembangan terbaru dalam kasus hilangnya kapal Arupadhatu. Proses identifikasi dan penanganan korban selanjutnya dilakukan oleh pihak berwenang sesuai prosedur yang berlaku.