MAKASSAR, BUKAMATANEWS – Upaya Sulawesi Selatan memperbaiki jaringan irigasi mendapat dukungan dari DPR RI. Rehabilitasi infrastruktur pengairan dinilai dapat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas sawah sekaligus memperkuat ketahanan pangan di daerah.
Anggota Komisi V DPR RI Hamka B Kady menilai rehabilitasi jaringan irigasi yang diinisiasi Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman bersama Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi merupakan langkah penting dalam memperkuat sektor pertanian.
Menurut Hamka, pembangunan jaringan irigasi melalui program Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulsel dapat membantu memastikan ketersediaan air bagi persawahan petani, termasuk di sejumlah wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan jaringan pengairan.
“Di Kabupaten Jeneponto itu kami terus melakukan pembangunan jaringan irigasi, termasuk juga di Takalar, Gowa, dan beberapa daerah lain. Kalau Pemprov Sulsel membangun, maka akan baguslah pertanian kita ke depan dalam hal mewujudkan swasembada pangan,” kata Hamka, Rabu (16/9/2026).
Ia juga mendorong agar pembangunan infrastruktur dasar pertanian tersebut diikuti dengan modernisasi sektor pertanian. Menurutnya, penggunaan alat dan mesin pertanian harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani.
“Karena kita tidak lagi berkutat dengan masalah dasar pertanian. Langkah Pak Gubernur ini, sekali lagi saya sampaikan, ini tepat dan berani. Ini bagus, ke depan kita tinggal dorong modernisasi alat pertaniannya dan SDM-nya,” jelasnya.
Hamka mengatakan pembangunan jaringan irigasi memiliki peran penting dalam mendukung agenda ketahanan pangan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
“Irigasi yang baik membuat sawah petani teraliri air secara optimal. Lahan yang tadinya tadah hujan kini bisa teraliri air dengan baik. Hal ini tentu mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan petani,” pungkasnya.
Layani 54 Ribu Hektare Sawah
Rehabilitasi jaringan irigasi yang dilakukan Pemprov Sulsel mencakup lahan persawahan seluas sekitar 54.000 hektare yang tersebar di 16 kabupaten.
Wilayah tersebut meliputi Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp780 miliar, bersumber dari hasil efisiensi APBD Sulsel Tahun Anggaran 2025-2027.
Hingga kini, pembangunan terus dikebut. Berdasarkan data per 13 September 2026, progres keseluruhan rehabilitasi pada 39 daerah irigasi telah mencapai sekitar 17,8 persen sejak pekerjaan dimulai pada April 2026.
Sebelumnya, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menjelaskan program recovery tersebut dilakukan karena sebagian besar infrastruktur irigasi eksisting mengalami penurunan fungsi hingga tersisa sekitar 50 persen.
Kerusakan pada bendung serta penyumbatan aliran air selama ini membuat pasokan air tidak optimal mencapai area persawahan, baik di wilayah hilir maupun jaringan tersier.
Penormalan jaringan irigasi tersebut diproyeksikan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian. Dengan pasokan air yang lebih terjamin, petani diharapkan dapat meningkatkan frekuensi masa tanam hingga dua atau tiga kali dalam setahun.
“Para petani bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen,” kata Andi Sudirman beberapa waktu lalu. (*)
BERITA TERKAIT
-
Pemprov Sulsel Perbarui Progres Pekerjaan Enam Paket MYP di Sejumlah Ruas Jalan
-
Kecelakaan KMP Virgo Transport 8, Hamka B Kady Desak Evaluasi Menyeluruh Regulasi dan Pengawasan Keselamatan Pelayaran
-
Antrean BBM Mulai Landai, Pengamat Kebijakan Publik Nilai Langkah Gubernur Sulsel Efektif dan Adaptif
-
Jadi Narasumber PKP Angkatan II dan III, Sekda Sulsel Jufri Rahman Tekankan Etika dan Integritas
-
Antrean BBM Belum Sepenuhnya Hilang, Sulsel Kirim Usulan Tambahan Kuota 30 Persen