GOWA, BUKAMATANEWS — Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana terus dilakukan Tim LONTARA Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Student Planning Society Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (SPACE FT-UH).
Program tersebut mendapat perhatian langsung melalui kegiatan visitasi Universitas Hasanuddin di Desa Lonjoboko, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (23/8/2026).
Visitasi ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung perkembangan program yang telah dijalankan tim selama tiga bulan sekaligus memastikan berbagai inovasi yang dirancang mahasiswa benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Lonjoboko.
Kegiatan tersebut dihadiri dosen Universitas Hasanuddin, dosen pendamping Tim LONTARA, pengurus organisasi mahasiswa, perangkat desa, kelompok pemuda, serta masyarakat setempat.
Dosen Universitas Hasanuddin Husnul Mubarak, S.TP., M.Si., mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi sekaligus melihat keberlanjutan program yang telah dirancang dan dilaksanakan Tim LONTARA.
“Tim Universitas datang untuk memastikan program yang direncanakan tim pelaksana selama tiga bulan ini sudah sesuai atau belum, melihat situasi Desa Lonjoboko, dan bagaimana tindak lanjut dari program PPK ORMAWA,” jelasnya.
Cek Langsung Program Mitigasi Bencana
Dalam visitasi tersebut, tim Universitas Hasanuddin meninjau sejumlah program yang menjadi bagian dari penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Agenda pertama dilakukan dengan mengunjungi lahan konservasi. Dalam kesempatan itu, Tim LONTARA menyerahkan bibit pohon kepada Pemerintah Desa Lonjoboko sebagai bagian dari upaya mendukung konservasi lingkungan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyusuri sejumlah wilayah desa untuk melihat langsung hasil pemasangan plang jalur evakuasi bencana dan titik kumpul yang telah ditempatkan di sepanjang jalan desa.
Keberadaan rambu-rambu tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali jalur evakuasi serta lokasi berkumpul ketika terjadi bencana.
Program tersebut menjadi semakin penting mengingat aspek kesiapsiagaan masyarakat merupakan salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko ketika bencana terjadi.
Landslide Early Warning System Jadi Sorotan
Setelah meninjau sejumlah titik di wilayah desa, rombongan melanjutkan kegiatan di aula Kantor Desa Lonjoboko.
Di lokasi tersebut, dilakukan peninjauan sekaligus diskusi mengenai pengoperasian Landslide Early Warning System (LEWS) atau sistem peringatan dini tanah longsor yang dirakit dan dikembangkan oleh Tim LONTARA.
Selain alat pendeteksi dini tanah longsor, tim juga memaparkan peta kawasan rawan bencana yang menjadi bagian dari program.
Melalui teknologi tersebut, masyarakat diharapkan memiliki informasi awal mengenai potensi terjadinya tanah longsor sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dan mempercepat proses evakuasi apabila kondisi membahayakan.
Diskusi tersebut juga menjadi ruang evaluasi antara tim mahasiswa, pihak universitas, pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat untuk melihat sejauh mana program dapat dioperasikan serta dikembangkan secara berkelanjutan.
Dorong Program Tak Berhenti Setelah Pendampingan
Dosen pendamping Tim LONTARA, Ir. Dewa Sagita Alfadin Nur, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas keterlibatan pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat dalam mendukung seluruh rangkaian program.
Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan dari keberhasilan mahasiswa menyelesaikan kegiatan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan mitra untuk melanjutkan program setelah masa pendampingan berakhir.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran bapak, ibu, dan pemuda Desa Lonjoboko pada kegiatan tim LONTARA hari ini. Kami sangat berharap agar ke depan tetap mendapat dukungan baik dari masyarakat dan mitra sekalian, demi memperkuat sinergi kerja sama serta keberlangsungan program,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci agar berbagai inovasi yang telah dibangun tidak berhenti sebagai program kampus semata.
Kehadiran Tim LONTARA di Desa Lonjoboko sekaligus menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam bidang lingkungan dan mitigasi bencana.
Melalui visitasi tersebut, Universitas Hasanuddin kembali menegaskan dukungannya terhadap pengembangan kapasitas organisasi mahasiswa agar mampu melahirkan inovasi yang aplikatif sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Bagi Desa Lonjoboko, program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan perangkat mitigasi bencana, tetapi juga membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana secara berkelanjutan.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Unhas Day 2026 Jadi Ruang Mahasiswa Kenalkan Inovasi Desa Tangguh Bencana
-
Dari Pesisir untuk Masa Depan, Mahasiswa KKN Unhas Bangun Budaya Literasi di Desa Pitue
-
Perkuat Inovasi dan Internasionalisasi, Rektor Unhas Lantik 5 Wakil Rektor di Periode Kedua
-
Makassar Jadi Tuan Rumah Pertemuan Akademisi Kelautan Dunia, Munafri Sambut Peserta Lewat Gala Dinner
-
Unhas Bekali Peternak Sidrap Teknik Modern Jaga Kesehatan Unggas dan Tingkatkan Produktivitas