Redaksi : Selasa, 21 Juli 2026 14:40
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman

MAKASSAR, BUJKAMATANEWS - Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), program Jelajah Sampah di Kecamatan Tallo tidak hanya berhasil mengumpulkan 116,8 kilogram sampah, tetapi juga menjadi momentum peluncuran Gerakan 10.000 Galon Tumpuk, sebuah inovasi pengolahan sampah organik rumah tangga yang ditargetkan mampu mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kegiatan yang berlangsung pada akhir pekan lalu itu memadukan aksi bersih lingkungan dengan edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program ini menjadi bagian dari strategi DLH Makassar untuk membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, membuka langsung kegiatan tersebut yang dihadiri unsur Tripika Kecamatan Tallo, para lurah, ketua RT/RW, Penjabat Ketua LPM, tokoh masyarakat, serta berbagai komunitas peduli lingkungan.

Dalam sambutannya, Helmy menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui peningkatan layanan pengangkutan atau pengelolaan di hilir. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan timbulan sampah di Kota Makassar.

"Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Jika masyarakat dan pemerintah berjalan beriringan, kita optimistis dapat menciptakan Makassar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan," ujarnya.

Ia mengajak masyarakat membiasakan diri memilah, mengurangi, dan mengolah sampah dari lingkungan keluarga sebagai langkah sederhana yang memberikan dampak besar terhadap kebersihan kota.

Camat Tallo, Andi Husni, mengapresiasi kepercayaan DLH Makassar yang menjadikan wilayahnya sebagai lokasi pelaksanaan Jelajah Sampah. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

"Aksi seperti ini bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah dan memahami bahwa pengelolaannya dimulai dari rumah," katanya.

Dari hasil aksi lapangan, peserta berhasil mengumpulkan 26,4 kilogram sampah organik, 70,5 kilogram sampah anorganik, dan 19,9 kilogram sampah residu, dengan total mencapai 116,8 kilogram. Dominasi sampah anorganik yang terkumpul menjadi gambaran masih besarnya potensi sampah yang sebenarnya dapat didaur ulang apabila dipilah sejak awal.

Selain aksi bersih-bersih, kegiatan ini juga ditandai dengan peluncuran Gerakan 10.000 Galon Tumpuk, sebuah metode sederhana untuk mengolah sampah organik menggunakan galon bekas yang disusun secara bertingkat. Sistem ini dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat di lingkungan rumah dengan biaya yang murah dan ramah lingkungan.

Sekretaris Camat Tallo, Dr. Bau Asseng, memberikan edukasi sekaligus demonstrasi langsung mengenai teknik pengolahan sampah organik menggunakan sistem galon tumpuk. Ia menjelaskan bahwa metode tersebut dapat menjadi solusi praktis bagi keluarga dalam mengurangi sampah organik yang selama ini mendominasi sampah rumah tangga.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan berbagai kelas edukasi lingkungan, mulai dari pembuatan eco enzyme, budidaya maggot, hingga pelatihan pembuatan kompos dan biopori. Peserta turut mengunjungi pameran urban farming dan produk olahan dari Bank Sampah Sektoral yang memperlihatkan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat.

Melalui Jelajah Sampah dan Gerakan 10.000 Galon Tumpuk, DLH Makassar berharap lahir kebiasaan baru di tengah masyarakat untuk mengurangi, memilah, dan mengolah sampah dari sumbernya. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Kota Makassar yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.