Redaksi : Senin, 13 Juli 2026 20:37

BUKAMATANEWS - Pertandingan perempat final Piala Dunia 1986 antara Argentina dan Inggris kembali dihidupkan melalui film dokumenter The Match, sebuah karya yang tidak sekadar mengulas pertandingan sepak bola, tetapi juga mengungkap bagaimana olahraga dapat menjadi cerminan politik, identitas nasional, hingga luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.

Disutradarai oleh Juan Cabral dan Santiago Franco, The Match mengajak penonton menyelami salah satu pertandingan paling ikonik dalam sejarah sepak bola dunia. Lewat perpaduan rekaman arsip, kesaksian para pemain, serta refleksi para tokoh yang terlibat langsung, film ini merekonstruksi laga yang mempertemukan Argentina dan Inggris di Stadion Azteca, Meksiko, pada Piala Dunia 1986.

Meski banyak pertandingan lain yang dianggap lebih spektakuler dari sisi kualitas permainan maupun jumlah gol—seperti final Piala Dunia 2022 antara Argentina dan Prancis—duel Argentina kontra Inggris 1986 memiliki nilai sejarah yang jauh melampaui hasil di lapangan.

Pertandingan tersebut berlangsung hanya empat tahun setelah Perang Falklands atau Malvinas pada 1982 yang menewaskan ratusan prajurit dari kedua negara. Karena itu, kemenangan di lapangan menjadi simbol yang sarat makna bagi kedua bangsa, menjadikan sepak bola sebagai ruang pertemuan antara olahraga, nasionalisme, dan politik internasional.

Mengupas Sejarah di Balik Laga Ikonik

Sejak awal, The Match menempatkan pertandingan tersebut sebagai sebuah peristiwa monumental. Film ini membawa penonton menelusuri akar rivalitas Inggris dan Argentina, mulai dari sejarah Kepulauan Falklands/Malvinas, persaingan panjang di Piala Dunia, hingga dampak perang yang masih membekas ketika kedua negara bertemu di Meksiko pada 1986.

Dokumenter ini tidak hanya menampilkan jalannya pertandingan, tetapi juga membangun konteks sosial, politik, dan budaya yang membuat duel tersebut menjadi salah satu laga paling bersejarah sepanjang masa.

Valdano dan Lineker Jadi Pemandu Cerita

Narasi film dipimpin oleh dua mantan pemain yang tampil dalam pertandingan tersebut, yakni Jorge Valdano dari Argentina dan Gary Lineker dari Inggris.

Keduanya menjadi penghubung utama bagi penonton untuk memahami dinamika pertandingan, sekaligus menghadirkan perspektif dari dua kubu yang dahulu saling berhadapan.

Selain Valdano dan Lineker, film juga menghadirkan John Barnes, Peter Shilton, Oscar Ruggeri, Ricardo Giusti, Julio Olarticoechea, hingga Jorge Burruchaga. Mereka diajak menyaksikan kembali rekaman pertandingan di layar besar dan memberikan reaksi secara spontan terhadap berbagai momen penting yang terjadi selama laga berlangsung.

Pendekatan tersebut membuat The Match terasa lebih emosional dibanding sekadar dokumenter olahraga biasa.

Mengungkap Kisah di Balik "Tangan Tuhan"

Salah satu kekuatan utama film ini adalah keberhasilannya mengangkat berbagai cerita yang jarang diketahui publik.

Selain kembali membahas dua gol legendaris Diego Maradona—gol kontroversial "Hand of God" dan "Goal of the Century"—film juga mengeksplorasi berbagai detail menarik, mulai dari takhayul di ruang ganti, obsesi pelatih Carlos Bilardo, hingga momen-momen kecil yang turut membentuk jalannya pertandingan.

Referensi dari buku karya sejarawan sepak bola Andrés Burgo turut memperkaya narasi sehingga penonton memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum, selama, dan setelah pertandingan berlangsung.

Lebih dari Sekadar Rivalitas

Di balik kisah penuh ketegangan, The Match justru menyampaikan pesan yang lebih humanis.

Film ini memperlihatkan bagaimana para mantan pemain yang dahulu menjadi rival kini dapat duduk bersama, mengenang pertandingan bersejarah tersebut dengan penuh rasa hormat.

Perbedaan, konflik, bahkan kebencian yang pernah mengiringi laga itu perlahan berubah menjadi saling menghargai seiring berjalannya waktu.

Melalui pendekatan tersebut, The Match menegaskan bahwa sepak bola memang sering kali lebih dari sekadar permainan. Namun pada akhirnya, olahraga tetap memiliki kekuatan untuk menyatukan manusia, melampaui batas politik, sejarah, maupun permusuhan yang pernah memisahkan mereka.