Bukan Cuma Sutra! Tenun Rongkong hingga Kain Kajang Siap Unjuk Gigi di HUT Dekranas 2026
Ketua Panitia Harian 46 Tahun Dekranas, Dr. Sukarniaty Kondolele, M.M., menegaskan bahwa ini adalah momentum krusial untuk menggeser persepsi pasar nasional maupun global tentang kekayaan budaya Kawasan Timur Indonesia.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS – Selama ini, ingatan publik tentang kain khas Sulawesi Selatan mungkin langsung tertuju pada kemilau kain sutranya yang tersohor. Namun, paradigma itu siap diubah. Lewat momentum emas Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 yang akan digelar di Makassar pada 9–12 Juli 2026, Sulsel bersiap membongkar "harta karun" wastra dan kriya mereka yang selama ini belum terekspos secara masif.

Lebih dari sekadar pameran produk, ajang nasional ini akan disulap menjadi panggung pembuktian bagi mahakarya para perajin lokal. Mulai dari eksotisme Tenun Rongkong yang sarat nilai spiritual, keunikan Kain Tope, kesahajaan Kain Kajang yang khas dengan warna alamnya, hingga produk kriya berbahan marmer dan ukiran kelas tinggi, semuanya siap unjuk gigi di hadapan ribuan pasang mata perwakilan seluruh provinsi di Indonesia.
Langkah berani ini dinilai sangat selaras dengan tema besar yang diusung Dekranas tahun ini, yakni "Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia".
Ketua Panitia Harian 46 Tahun Dekranas, Dr. Sukarniaty Kondolele, M.M., menegaskan bahwa ini adalah momentum krusial untuk menggeser persepsi pasar nasional maupun global tentang kekayaan budaya Kawasan Timur Indonesia.
"Kami ingin memperkenalkan bahwa Sulawesi Selatan bukan hanya dikenal karena sutranya. Kita memiliki keragaman wastra dan produk kriya dengan nilai filosofis mendalam yang kualitasnya sangat mampu bersaing di pasar internasional," ujar Sukarniaty, Jumat (26/6/2026).
Kehadiran sekitar 5.000 peserta dari berbagai penjuru tanah air diproyeksikan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ceruk pasar baru. Melalui Pameran Kriya dan Wastra Dekranasda se-Indonesia, panitia sengaja mendesain acara ini sebagai ruang temu (melting pot) untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang tangguh.
Kolaborasi antara pemerintah, perajin, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan melahirkan output konkret berupa:
Perluasan Jejaring Pasar: Membuka akses langsung bagi perajin daerah ke pembeli skala besar (buyer nasional).
Kemitraan Bisnis Antardaerah: Membuka peluang kerja sama distribusi komoditas kriya antarprovinsi.
Peningkatan Daya Saing: Menjadi standar evaluasi bagi perajin lokal untuk terus berinovasi dalam hal kualitas dan pengemasan produk.
"Harapan kami, pelaku UMKM dan perajin kita tidak hanya jago kandang. Mereka harus bisa memperluas pasar, membangun kemitraan dengan daerah lain, meningkatkan kualitas produk, sekaligus memperkuat daya saing agar mampu mendunia," tambah Sukarniaty.
Dampak Nyata di Luar Panggung Acara
Bagi Sulawesi Selatan, menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini bukan sekadar urusan seremonial atau mengejar gengsi. Nilai budaya yang kuat yang dipromosikan selama empat hari tersebut diharapkan menjadi daya tarik pariwisata jangka panjang (cultural tourism).
Dengan mengangkat identitas wastra lokal yang autentik, Sulsel sedang menanam investasi citra (branding) sebagai daerah yang kaya akan kreativitas dan siap menjadi pusat industri kreatif di Indonesia Timur.
"Menjadi tuan rumah bukan sekadar sebuah kehormatan. Kami ingin kesempatan ini menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan ekonomi daerah, promosi potensi lokal, pemberdayaan UMKM, dan peningkatan daya saing Sulawesi Selatan. Harapannya, dampak kegiatan ini dapat terus dirasakan bahkan setelah seluruh rangkaian acara berakhir," pungkas Sukarniaty. (*)
News Feed
Berita Populer
26 Juni 2026 09:15
26 Juni 2026 09:22
26 Juni 2026 09:34
26 Juni 2026 12:27
26 Juni 2026 12:39
