Redaksi
Redaksi

Rabu, 17 Juni 2026 20:25

Takalar Bergerak Lawan TBC, 110 Duta Dikukuhkan untuk Wujudkan Eliminasi Tahun 2030

Takalar Bergerak Lawan TBC, 110 Duta Dikukuhkan untuk Wujudkan Eliminasi Tahun 2030

Melalui gerakan Assamaturu Bebas TBC, Pemerintah Kabupaten Takalar optimistis mampu mempercepat penurunan angka kasus TBC sekaligus mewujudkan target Takalar Bebas TBC 2030.

TAKALAR, BUKAMATANEWS - Pemerintah Kabupaten Takalar memperkuat langkah menuju eliminasi Tuberkulosis (TBC) dengan meluncurkan program Assamaturu Bebas TBC (Aksi Sistematis Bebaskan TBC). Program inovatif yang digagas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, M.Kes, ini menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk menekan angka kasus TBC hingga mencapai target eliminasi pada 2030.

Peluncuran program berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Rabu (17/6/2026), yang dirangkaikan dengan pengukuhan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC oleh Bupati Takalar. Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forkopimda, pimpinan OPD, camat, lurah, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi profesi kesehatan, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai elemen masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, menjelaskan bahwa Assamaturu, yang dalam bahasa Makassar berarti bergerak bersama, menjadi filosofi utama gerakan ini dalam menyatukan seluruh komponen masyarakat untuk melawan TBC.

Menurutnya, eliminasi TBC tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, hingga tokoh agama dan tokoh adat.

"Semangat Assamaturu adalah semangat bergerak bersama menuju tujuan yang sama, yaitu mewujudkan Takalar bebas TBC melalui kolaborasi semua pihak," ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, estimasi kasus TBC pada 2025 mencapai 1.247 kasus. Meski capaian penemuan kasus telah mencapai 78 persen dan tingkat keberhasilan pengobatan berada di angka 89 persen, masih terdapat tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, stigma terhadap penderita TBC, serta pasien yang belum menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkab Takalar menerapkan pendekatan Heptahelix, yang mengintegrasikan peran pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, tokoh agama, dan tokoh adat dalam upaya pencegahan, deteksi dini, pendampingan, hingga pengobatan pasien TBC.

Sebanyak 110 Duta Assamaturu Bebas TBC yang dikukuhkan akan menjadi ujung tombak edukasi di desa dan kelurahan. Mereka bertugas memberikan penyuluhan kepada masyarakat, mendorong pemeriksaan dini bagi warga yang bergejala, serta mendampingi pasien agar menjalani pengobatan secara lengkap hingga sembuh.

Sebagai penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat, Pemerintah Kabupaten Takalar juga membentuk Pos TBC Desa di seluruh 110 desa dan kelurahan. Pos tersebut akan menjadi pusat skrining, edukasi, pendampingan pasien, sekaligus mempercepat pelaporan kasus secara terintegrasi.

Dr. Nilal Fauziah menegaskan bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini dan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga selesai. Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini.

Melalui gerakan Assamaturu Bebas TBC, Pemerintah Kabupaten Takalar optimistis mampu mempercepat penurunan angka kasus TBC sekaligus mewujudkan target Takalar Bebas TBC 2030. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan lahir masyarakat Takalar yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Bupati Takalar H. Mohammad Firdaus Daeng Manye

Berita Populer