Trafik Penumpang Pelindo Regional 4 Hingga Agustus Naik 12,9%
17 September 2026 21:12
Tasming menyadari bahwa CFN adalah etalase terbuka bagi produk-produk Parepare yang selama ini mungkin hanya dikenal di lingkungan terbatas. "Kami ingin semakin banyak pelaku UMKM yang memperoleh peluang usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan.
PAREPARE, BUKAMATANEWS - Malam itu, Mattirotasi Baru berbeda. Bukan sekadar deru kendaraan yang menghilang, melainkan ribuan langkah kaki yang menggantikannya. Lampu-lampu stan berkelap-kelip, aroma makanan khas Parepare bercampur dengan tawa anak-anak dan alunan musik santai. Di tengah keramaian itu, Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, melangkah pelan—bukan sebagai pejabat yang sekadar meninjau, melainkan sebagai pendengar setia bagi mimpi-mimpi kecil para pelaku UMKM.

Sabtu (6/6) malam menjadi momen istimewa. Kehadiran Tasming di Car Free Night (CFN) bukanlah seremoni basa-basi. Ia menyusuri setiap stan, berhenti di lapak kerupuk khas, mencicipi olahan rumahan, bahkan sempat berbincang lama dengan seorang penjual aksesoris anyaman yang mengaku baru bergabung tiga minggu lalu. "Bagaimana omzetnya? Ada kendala?" tanyanya hangat, seperti tetangga yang singgah ke warung, bukan seperti wali kota yang sedang inspeksi.
Bagi sebagian orang, Car Free Night mungkin hanya tentang jalanan yang bebas kendaraan. Tapi bagi Pemerintah Kota Parepare, CFN dan Car Free Day (CFD) adalah strategi ekonomi yang dikemas dalam gaya hidup. Di sinilah masyarakat tidak hanya berolahraga atau bersantai, tetapi juga bertransaksi, berjejaring, dan merasakan langsung denyut ekonomi rakyat.
"CFN dan CFD kami hadirkan sebagai ruang interaksi masyarakat sekaligus wadah bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan dan menjual produknya. Kami ingin ekonomi lokal terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Tasming di sela-sela perbincangannya dengan seorang penjual es kelapa muda yang dagangannya laris manis.

Yang menarik dari program ini bukan hanya jumlah pengunjung yang memadati kawasan Mattirotasi Baru, tetapi juga keberagaman pelaku usaha yang terlibat. Ada ibu-ibu rumah tangga yang baru pertama kali berjualan, ada anak muda yang mencoba peruntungan dengan merek lokal, ada pula pengrajin tua yang produknya hampir punah kini kembali dilirik.
Tasming menyadari bahwa CFN adalah etalase terbuka bagi produk-produk Parepare yang selama ini mungkin hanya dikenal di lingkungan terbatas. "Kami ingin semakin banyak pelaku UMKM yang memperoleh peluang usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan. Setiap minggu, ada wajah-wajah baru yang bergabung. Itu pertanda baik," tambahnya.
Yang membuat CFN berbeda dari kegiatan serupa di kota lain adalah komitmen pemerintah untuk tidak sekadar menyediakan tempat, tetapi juga memastikan dampak ekonominya terukur. Pemerintah Kota Parepare secara rutin memantau pergerakan transaksi, memberikan pembinaan, dan membuka akses permodalan bagi UMKM yang menunjukkan potensi.
Dalam kunjungannya, Tasming juga menyerap berbagai masukan langsung dari para pedagang—mulai dari kebutuhan tempat yang lebih representatif, sirkulasi pengunjung yang lebih tertata, hingga usulan jam operasional yang lebih panjang. Semua dicatat, semua direspons.
Saat malam semakin larut dan keramaian mulai mereda, satu hal yang jelas: CFN Parepare bukanlah sekadar acara mingguan. Ia adalah ruang ekonomi baru, laboratorium sosial bagi UMKM, dan bukti bahwa kebijakan yang dekat dengan rakyat adalah kebijakan yang berjalan di antara mereka, bukan dari balik meja.
Tasming Hamid pulang dengan catatan-catatan kecil di ponselnya—nama pedagang, produk unggulan, dan janji untuk kembali minggu depan. Karena baginya, pembangunan ekonomi tidak harus selalu megah dan besar. Kadang, ia tumbuh dari malam-malam sederhana di pinggir jalan, diiringi senyum warga dan semangat pelaku usaha yang tak pernah padam.
17 September 2026 21:12
17 September 2026 20:51
17 September 2026 20:17
17 September 2026 19:49
17 September 2026 18:38