JAKARTA, BUKAMATANEWS – Di tengah kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, militer Israel justru mengintensifkan serangan udara di Lebanon selatan pada Rabu (08/04) pagi waktu setempat. Langkah ini menegaskan sikap Tel Aviv bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup operasi melawan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) secara resmi menyatakan telah menghentikan semua serangan terhadap Iran. Namun, pernyataan tegas disampaikan bahwa operasi militer di Lebanon akan tetap berlanjut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membantah klaim bahwa gencatan senjata dua pekan juga berlaku untuk konflik dengan Hizbullah.
“Kesepakatan dengan Iran tidak mengikat kami untuk berhenti melindungi perbatasan utara dari ancaman Hizbullah,” ujar Netanyahu dalam pernyataan singkatnya.
Meskipun Washington dan Teheran telah menyepakati jeda serangan, sejumlah negara di kawasan Teluk melaporkan adanya serangan yang diduga berasal dari Iran. Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), serta Bahrain mengklaim bahwa wilayah mereka menjadi sasaran serangan drone dan rudal. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Iran terkait klaim tersebut.
gencatan senjata dengan Segudang Syarat
Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran terungkap setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan persetujuannya untuk menangguhkan pemboman terhadap Iran selama dua minggu. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut kesepakatan ini bersifat dua arah, dengan syarat utama Teheran segera membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz secara menyeluruh, aman, dan tanpa penundaan.
"Saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah!" tulis Trump.
Trump menambahkan bahwa pihaknya telah melampaui seluruh tujuan militer yang ditetapkan. Ia mengklaim bahwa Iran telah mengirimkan 10 butir syarat gencatan senjata kepada AS dan Israel, yang dinilainya sebagai "dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi."
"Hampir seluruh butir perselisihan di masa lalu telah disepakati. Periode dua minggu ini akan memungkinkan kesepakatan difinalisasi dan disahkan," kata Trump.
Respons Iran dan Israel
Sebelum pernyataan Trump dirilis, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa negaranya akan menyetujui gencatan senjata dengan syarat serangan terhadap Iran benar-benar dihentikan. Araghchi juga menjamin bahwa selama dua pekan ke depan, jalur pelayaran akan aman melalui Selat Hormuz.
"Hal ini akan dilakukan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada," ujar Araghchi.
Sementara itu, pemerintah Israel menyatakan mendukung penuh keputusan Presiden Trump. Dalam pernyataan resmi, Israel menegaskan persetujuan mereka atas penangguhan serangan terhadap Iran selama dua pekan, dengan syarat Teheran segera membuka Selat Hormuz dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara kawasan.
Kronologi Ancaman Trump
Perkembangan ini bermula pada Selasa (07/04), ketika Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal. Trump bahkan menyatakan akan membuat Iran seperti "neraka" jika ultimatumnya tidak dipenuhi. Tenggat yang diberikan adalah Selasa (07/04) waktu Washington DC atau Rabu (08/04) pukul 07.00 WIB.
Hingga berita ini diterbitkan, situasi di Lebanon selatan masih terus memanas, sementara proses negosiasi final antara AS dan Iran memasuki babak baru dengan gencatan senjata dua minggu sebagai masa transisi.
BERITA TERKAIT
-
Ribuan Lebah Serbu Kota Netivot Israel, Warga Terjebak di Dalam Toko dan Rumah
-
Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF, Deng Ical: Pengiriman Pasukan Harus Dibahas dengan Komisi I DPR
-
Kamboja dan Thailand Siap Gencatan Senjata, Tapi Dentuman Senjata Masih Menggema di Perbatasan
-
Trump Klaim Genjatan Senjata Israel - Hamas Terjadi Pekan Depan
-
RI - Thailand Desak Gencatan Senjata di Palestina