Redaksi : Minggu, 05 April 2026 11:55

JAKARTA, BUKAMATANEWS - Pagi itu, Jalan Merdeka Selatan tidak seperti biasanya. Bukan hiruk-pikuk kendaraan, melainkan alunan doa dan lantunan lagu yang menggema di udara. Ribuan warga yang mengenakan gamis putih memadati area di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Minggu (5/4/2026). Bukan untuk membenci, tetapi untuk mengantar kepergian tiga pahlawan bangsa yang gugur di tanah asing.

Aksi yang bertajuk "Berjuta Doa untuk Syuhuda" ini diprakarsai oleh Majelis Ormas Islam (MOI). Suasana haru sekaligus membara terasa sejak pukul 08.30 WIB, ketika massa mulai membanjiri lokasi hingga ke gerbang Monas dekat Stasiun Gambir.

Di antara ribuan peserta, terlihat pula ibu-ibu yang menggendong bayi dan anak kecil. Mereka datang bukan untuk kerusuhan, tetapi untuk menanamkan sejak dini rasa cinta tanah air dan kepedulian terhadap perdamaian dunia. Sebagian besar peserta mengenakan gamis putih dengan atribut khas Indonesia dan Palestina.

Di seberang gedung Kedubes AS, tepat di samping barikade beton, sebuah panggung orasi setinggi sekitar dua meter berdiri kokoh. Namun, yang paling menyayat hati adalah latar belakang panggung itu: terpampang wajah tiga perajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan.

Tiga Pahlawan yang Gugur di Bawah Bendera PBB
Ketiga prajurit yang menjadi pusat doa ribuan massa itu adalah:

1.Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar

2.Serka (Anumerta) M. Nur Ichwan

3.Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon

Mereka adalah bagian dari pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Gugur bukan dalam latihan, tetapi saat menjalankan amanat bangsa untuk menciptakan perdamaian di tengah konflik dunia.

Aksi ini tidak hanya berisi doa bersama. Massa dengan lantang menyuarakan sejumlah isu global, termasuk kemerdekaan Palestina. Lagu-lagu perjuangan berkumandang, dan setiap nada seolah menjadi penguat tekad. Bendera Palestina dikibarkan di mana-mana, menyatu dengan duka dan semangat membela kaum tertindas.

Hingga pukul 08.45 WIB, massa aksi terus berdatangan. Sebagian sempat beranjak sebentar untuk mencari sarapan, lalu kembali lagi bergabung—seolah enggan meninggalkan panggung doa yang telah menjadi pusat perhatian Ibu Kota pagi itu.

Aksi ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa Indonesia tidak pernah absen dalam misi perdamaian. Namun, di balik itu, ada air mata istri yang ditinggalkan, tangis anak yang tak lagi melihat ayahnya pulang, dan doa ribuan warga yang berharap pengorbanan ini tak dilupakan begitu saja.