Dewi Yuliani : Jumat, 13 Maret 2026 20:57
Walhi menginisiasi pertemuan bertajuk konsolidasi pecinta alam di Kopi Tiam.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menginisiasi pertemuan bertajuk konsolidasi pecinta alam di Kopi Tiam. Dibuka oleh Ifah selaku Master Of Ceremony, konsolidasi ini menghadirkan berbagai komunitas pencinta alam yang ada di Sulsel. Pertemuan ini bertujuan untuk mempertemukan kembali organisasi pecinta alam dalam merencanakan agenda-agenda kolaborasi penyelamatan lingkungan hidup di masa depan.

"Kegiatan ini diselenggarakan Walhi dan bukan hanya diskusi sebatas diskusi, tapi ini akan menjadi jalan untuk melihat kondisi lingkungan hari ini, menjaga solidaritas dan memperjuangkan keadilan ekologis. Lahir energi baru untuk memperkuat solidaritas dari gerakan pecinta alam," ujar Ifah, Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial Walhi Sulsel.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Walhi Sulsel dalam membangun gerakan lingkungan yang memiliki dampak lebih besar. Saat ini berbagai kebijakan tidak lagi berpihak pada keberlangsungan hidup masyarakat, lebih dari itu, kebijakan yang hadir justru melahirkan bencana ekologis di berbagai daerah di Indonesia tidak terkecuali yang terjadi di Sulsel.

"Maka dari itu, hadirnya konsolidasi ini menjadi kekuatan besar di masa yang akan datang untuk menciptakan gerakan dan agenda-agenda pelestarian ataupun penyelamatan alam," ujarnya. 

Muhammad Al Amin, Direktur Walhi Sulsel, menjelaskan, perlu untuk memperkuat dan berkumpul untuk membicarakan arah perjuangan pecinta alam. Menurutnya, saat ini kehadiran pecinta alam di ruang-ruang pemulihan itu mulai tidak terlihat, maka dari itu perlu untuk mendiskusikan bagaimana menguatkan kembali gerakan pecinta alam. 

Sementara, Perwakilan Kharisma SCA, Jaya, mengungkapkan, mulai menghilangnya pecinta alam dalam ruang-ruang pemulihan lingkungan bukan tanpa sebab. Hal ini dikarenakan kurikulum pecinta alam saat ini lebih banyak fokus pada bagaimana bertahan hidup di alam, bagaimana kesiapan menghadapi bencana namun sangat kurang membahas terkait dengan bagaimana upaya advokasi ataupun gerakan pelestarian lingkungan hidup.

"Kegiatan kedepannya harus membangun kesadaran kritis pecinta alam, dan kurikulum dalam perekrutan anggotanya itu tidak hanya sebatas bagaimana survive di alam bebas. Saat ini, sangat jarang saya lihat terkait dengan kurikulum pembahasan kritis soal kerusakan lingkungan yang masif terjadi saat ini," kata Jaya. 

Selain membahas terkait dengan refleksi gerakan pecinta alam, konsolidasi ini juga membahas terkait dengan evaluasi dan rencana gerakan pecinta alam di masa depan. Hirsan, dari PKPA Gowa menjelaskan, selama ini organisasi pecinta alam bergerak sendiri-sendiri dan cenderung nyaman dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Maka dari itu kedepan semua organisasi bisa saling terhubung. Keterhubungan ini kemudian dijalankan melalui kegiatan-kegiatan advokasi yang fokus pada upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup.

"Perencanaan kedepan, kegiatan-kegiatan advokasi sangat penting melibatkan pecinta alam karena jangkauan mereka luas dan konsolidasi ini akan jadikan sebagai jalan terbaik untuk mewujudkan keadilan ekologis," ungkap Asmin.

Momentum Jambore pada Bulan April kemudian menjadi jembatan dalam mempersatukan kembali organisasi pecinta alam, sebagai tuan rumah, para organisasi pecinta alam di Sulsel harus memanfaatkan momentum ini dalam menciptakan generasi yang sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup.    

"Sulsel masih ada agenda yang harus dikerjakan, dan ini utang teman-teman pecinta alam, kita akan jadi tuan rumah kongres pecinta alam, itu akan menjadi peluang besar dalam membangkitkan eksistensi pecinta alam di Sulsel. Semangat untuk mempersatukan harus disalurkan, kita sebegitu banyaknya, tapi tidak sebegitu berartinya dalam gerakan-gerakan alam," ungkap Anwar, perwakilan Chipipax Indonesia.

Perwakilan KOPSA, Agung, selaku fasilitator juga menjelaskan bahwa semua keresahan yang ada pada sesi refleksi akan dibuatkan menjadi sebuah kurikulum peningkatan kapasitas pada kegiatan jambore nanti. "Dengan adanya keterlibatan Mapala perguruan tinggi dan komunitas pecinta alam, ini momentum merangkulnya," kata Yusri Syam, dari Mapala STIEM Bongaya. 

Konsolidasi ini ditutup oleh komitmen bersama dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup. Bagi Agung, untuk kedepannya yang harus menjadi fokus utama adalah bagaimana mempersatukan kembali organisasi-organisasi pecinta alam yang ada kesiapan menerima tantangan, serta menjaga regenerasi yang sadar dan kritis soal lingkungan, bahwa kegiatan pecinta alamnya bukan hanya sekadar mendaki, tapi bagaimana menjaga dan memperjuangkan lingkungan. Maka dari itu, penguatan dan pembekalan ilmu diperlukan, bukan sebatas cara bertahan hidup di alam.

Kegiatan bertajuk konsolidasi pecinta alam ini ditutup dengan agenda buka puasa bersama bersama para peserta undangan yang hadir. Refleksi, evaluasi dan juga perencanaan advokasi lingkungan hidup di masa depan menjadi isi pembahasan konsolidasi.

"Terima kasih kepada seluruh komunitas dan organisasi yang hadir ini, diskusi yang sangat panjang ini, menjadi seorang pecinta alam bukan hanya soal menjelajahi dan menikmati alam, tapi kita punya tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keberlangsungan alam," tutup Ifah. (*)