Redaksi : Kamis, 12 Maret 2026 15:46
Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei

BUKAMATANEWS - Kondisi politik dan keamanan di Teheran masih diliputi ketegangan setelah gelombang serangan udara mengguncang ibu kota Iran pada akhir Februari lalu. Di tengah situasi tersebut, beredar kabar simpang siur mengenai kondisi pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei.

Rumor yang beredar di media sosial menyebut Mojtaba mengalami luka serius akibat serangan rudal yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bersama Israel. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari operasi militer yang menargetkan pusat komando strategis Iran.

Dalam rangkaian serangan itu, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah lokasi yang diyakini sebagai pusat koordinasi pertahanan Iran dihantam serangan udara.

Namun kabar mengenai luka serius Mojtaba segera dibantah oleh lingkaran pemerintahan Iran. Putra Presiden Iran, Yousef Pezeshkian, menyatakan bahwa Mojtaba berada dalam kondisi baik.

Melalui unggahan di kanal Telegram resminya, ia mengaku telah memastikan langsung informasi tersebut kepada sejumlah sumber yang berada di lingkaran kekuasaan.

“Alhamdulillah, dia dalam keadaan aman dan sehat,” tulisnya, mencoba meredam spekulasi yang berkembang cepat di dunia maya.

Meski demikian, siaran televisi pemerintah Iran sempat memunculkan spekulasi baru. Dalam salah satu laporan, Mojtaba disebut sebagai “veteran perang Ramadan yang terluka,” tanpa menjelaskan secara rinci jenis maupun tingkat cedera yang dimaksud.

Sementara itu, sejumlah media Barat melaporkan kemungkinan Mojtaba mengalami cedera pada bagian kaki pada hari pertama serangan, tepatnya pada 28 Februari, ketika ia berada di lokasi yang sama dengan ayahnya saat serangan udara menghantam titik strategis di Teheran.

Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel yang selama ini dipicu oleh berbagai isu, mulai dari program nuklir Teheran hingga dukungan Iran terhadap jaringan milisi sekutunya di Timur Tengah.

Target terhadap figur penting seperti keluarga Khamenei dinilai sebagai upaya mengguncang struktur kekuasaan di Iran. Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan akan terus melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi Barat.

Di tengah kabut perang dan arus informasi yang saling bertabrakan, perkembangan konflik ini tidak hanya memengaruhi stabilitas politik Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan keamanan dan energi global.