BUKAMATANEWS - Presiden RI Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus dan instruksi penanganan menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa tersebut diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli peralatan tulis.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden memerintahkan koordinasi antar kementerian untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa depan. "Bapak Presiden menaruh atensi dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal yang semacam ini dapat kita antisipasi," kata Prasetyo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2).
Prasetyo menyampaikan belasungkawa mendalam dan mengonfirmasi telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Sosial. "Untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali," ujarnya.
Lebih lanjut, Prasetyo menyatakan pemerintah akan mengevaluasi data penerima bantuan sosial (bansos). Langkah ini diambil sebagai upaya perbaikan sistem perlindungan sosial.
Korban Tulis Surat Permintaan Maaf untuk Ibu
Tragedi ini berawal ketika seorang siswa SD ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh dekat pondok tempat tinggalnya bersama neneknya yang berusia 80 tahun, pada Kamis (29/1) pekan lalu.
Di TKP, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan dalam bahasa Ngada yang diduga ditujukan kepada ibu kandung korban. Dalam surat itu, korban meminta sang ibu merelakannya pergi, serta memintanya untuk tidak menangis, mencari, atau merindukannya. Pada bagian akhir surat terdapat gambar mirip emoji wajah menangis.
Permintaan Buku dan Pena yang Tak Terpenuhi
Berdasarkan pemeriksaan kepolisian, sebelum meninggal korban sempat meminta uang kepada ibunya, MGT (47), untuk membeli buku tulis dan pena. Permintaan itu tidak dapat dipenuhi sang ibu karena keterbatasan ekonomi.
"Saya tidak punya uang untuk memberikannya," ujar MGT, yang mengaku kondisi keluarganya sangat terbatas dan serba kekurangan.
Pada malam sebelum kejadian, korban menginap di rumah ibunya. Keesokan paginya sekitar pukul 06.00 WITA, MGT meminta tukang ojek mengantarkan anaknya kembali ke pondok sang nenek. Itulah terakhir kali ia melihat anaknya hidup.
Pemerintah kini berfokus pada dua langkah: memberikan pendampingan psikologis dan sosial kepada keluarga korban, serta melakukan evaluasi mendasar terhadap program bantuan sosial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.
BERITA TERKAIT
-
Soroti Mobil Dinas Miliaran, Prabowo Tekankan Efisiensi Anggaran Daerah
-
Kerajaan Yordania Raja Abdullah II Puji Kepemimpinan Prabowo: “Dalam Waktu Singkat, Anda Sudah Mengubah Hidup Rakyat Kecil”
-
Presiden Prabowo Bertemu Sekjen PBB, Tegaskan Dukungan Indonesia untuk Perdamaian Palestina
-
Sinyal Politik atau Silaturahmi? Prabowo dan Megawati Bicara Masa Depan
-
Biden Dukung Program Makan Bergizi Gratis Prabowo