Redaksi
Redaksi

Kamis, 22 Januari 2026 16:55

Dari Roti ke Ruang: TaoBun Merajut Cerita Hangat di Tengah Dinamika Kafe Makassar

Dari Roti ke Ruang: TaoBun Merajut Cerita Hangat di Tengah Dinamika Kafe Makassar

Saat ini, TaoBun telah mengoperasikan tiga outlet dengan karakter yang berbeda di setiap lokasi.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Di tengah riuh pertumbuhan industri kafe di Kota Makassar, TaoBun hadir bukan sebagai pendatang yang lahir dari tren sesaat. Ia tumbuh perlahan, berlapis, dan berakar—bermula dari sesuatu yang paling sederhana: roti.

Tahun 2020 menjadi titik awal perjalanan TaoBun. Saat banyak pelaku usaha berlomba menampilkan konsep ruang unik dan visual yang “Instagramable”, TaoBun justru memulai langkahnya melalui TaoBun Express, sebuah konsep ringkas dengan menu andalan roti selai srikaya. Tidak ada kemegahan, tidak pula narasi besar tentang ruang. Yang ditawarkan hanya satu hal: rasa yang konsisten dan mudah diterima semua kalangan.

Dari sanalah relasi dengan pelanggan mulai terbangun. Perlahan namun pasti, TaoBun mengumpulkan basis pelanggan setia yang kini dikenal sebagai Sobat TaoBun. Mereka bukan sekadar konsumen, melainkan bagian dari perjalanan brand yang tumbuh secara organik.

Brand Manager TaoBun, Muhammad Abdillah, menyebut fondasi tersebut sebagai kunci keberlanjutan.

TaoBun ini brand yang lahir dari produk. Dari roti dulu, baru berkembang ke ruang dan konsep. Jadi pertumbuhannya organik,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi pembeda di tengah lanskap kafe Makassar yang semakin kompetitif. Alih-alih mengejar ekspansi agresif, TaoBun memilih memperkuat identitas secara bertahap—menjaga rasa, memperluas menu, lalu menghadirkan ruang yang merefleksikan nilai brand.

Tagline “Roti Semua Generasi” bukan sekadar jargon pemasaran. Ia menjadi cerminan strategi segmentasi TaoBun yang inklusif. Pengunjung datang dari latar belakang usia dan aktivitas yang beragam: pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, hingga komunitas olahraga.

Pagi hari, TaoBun kerap menjadi titik singgah usai berolahraga atau sebelum memulai aktivitas. Siang hingga sore, suasana berubah menjadi ruang kerja alternatif—work from cafe—dengan ritme yang lebih tenang. Memasuki malam, TaoBun menjelma ruang bersosialisasi bagi mereka yang ingin melepas penat setelah bekerja atau kuliah.

“Segmentasinya beragam, dari generasi Z dan milenial, pekerja dan mahasiswa. Jam kunjungannya juga berbeda-beda,” kata Abdillah.

Dengan jam operasional mulai pukul 07.00 hingga 00.00, TaoBun menempatkan diri sebagai ruang publik yang fleksibel—tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga waktu dan suasana.

Hal tersebut terasa kuat di outlet kedua TaoBun yang berlokasi di Jalan Raya Pendidikan. Begitu melangkah masuk, pengunjung disambut dominasi interior kayu bernuansa hangat. Area bar dirancang terbuka, menampilkan mesin espresso, penggiling kopi, serta peralatan seduh profesional yang menjadi pusat aktivitas.

Ruangannya tidak sekadar estetik, tetapi juga fungsional. Meja dan kursi ditata untuk mendukung berbagai kebutuhan: bekerja dengan laptop, membaca, berdiskusi, atau sekadar menikmati kopi. Di sisi lain, area luar ruang bernuansa hijau disiapkan bagi pengunjung yang menginginkan suasana lebih santai dan terbuka.

Di balik desain tersebut, TaoBun membawa prinsip yang jarang disorot secara kasat mata: kearifan lokal. Seluruh proses pembangunan melibatkan tukang lokal Bugis-Makassar. Pendekatan ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga pilihan nilai.

“Dari awal memang disepakati semua tukang lokal. Secara arsitektural kita angkat lokalitas dan pendekatan berkelanjutan,” jelas Abdillah.

Pendekatan lokal–berkelanjutan ini justru mengantarkan TaoBun ke panggung yang lebih luas. Konsep desain outlet kedua di Jalan Raya Pendidikan berhasil meraih Seoul Design Award 2025, sebuah pengakuan internasional atas desain yang berakar pada konteks lokal namun relevan secara global.

Saat ini, TaoBun telah mengoperasikan tiga outlet dengan karakter yang berbeda di setiap lokasi. Outlet pertama berada di kawasan Kamboja, menjadi saksi awal perjalanan brand. Ekspansi berikutnya direncanakan menyasar wilayah timur Kota Makassar pada akhir Maret mendatang.

“Setiap outlet berbeda konsep, tetapi ruh TaoBun tetap sama,” ujar Abdillah, menegaskan konsistensi nilai di tengah diferensiasi ruang.

Dalam hal promosi, TaoBun tidak bergantung pada kampanye besar-besaran. Media sosial menjadi kanal utama untuk membangun komunikasi, diperkuat dengan relasi media dan kegiatan yang lebih sering diinisiasi secara mandiri. Strategi ini sejalan dengan karakter brand yang tumbuh dari kedekatan, bukan gempuran iklan.

Dari sisi menu, TaoBun tetap menjaga prinsip inklusivitas. Harga ditetapkan terjangkau, mulai Rp6.000, dengan pilihan yang luas: aneka roti, rice bowl, mi instan, kopi, minuman berbasis susu, hingga teh. Kombinasi ini membuat TaoBun relevan bagi berbagai lapisan pengunjung tanpa kehilangan identitas awalnya sebagai rumah roti.

Menjamurnya kafe di Makassar tidak dilihat sebagai ancaman. Bagi TaoBun, dinamika tersebut justru menandakan ekosistem ekonomi yang bergerak.

“Semakin banyak kafe, justru ekonomi makin hidup. Itu hal yang positif,” tutup Abdillah.

Di tengah arus tren yang cepat berubah, TaoBun memilih bertahan dengan cara yang tenang—menjaga rasa, merawat ruang, dan membangun relasi. Dari sepotong roti hingga ruang yang hangat, TaoBun merajut ceritanya sendiri di kota yang terus bergerak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Taobun