BANYUWANGI, BUKAMATANEWS - Sebuah video yang memperlihatkan seorang biduan berpakaian seksi berjoget di atas panggung peringatan Isra' Mi'raj, viral di sosial media. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat, 16 Januari 2026.
Ketua Panitia Isra' Mi'raj Desa Parangharjo, Hadiyanto, mengakui acara hiburan itu. Menurut dia, aksi biduan itu dilakukan setelah acara inti selesai.
"Hiburan yang menghadirkan biduan pada acara Isra' Mi'raj tersebut memang benar adanya," kata Hadiyanto.
Meski demikian, ia berdalih hiburan itu digelar setelah acara usai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat. Acara hiburan tersebut merupakan inisiatif spontan untuk internal panitia. Atas kegaduhan yang terjadi, pihak panitia telah menyampaikan permohonan maaf melalui video klarifikasi di Polsek Songgon.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko, menyesalkan insiden viral yang dinilai mencoreng acara keagamaan. Menurut dia, polemik mengenai masalah ini bukan hal sepele.
"Polemik penampilan biduan yang berjoget di panggung peringatan Isra' Mi'raj di Banyuwangi tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele," ujarnya, Senin, 19 Januari 2026.
Legislator asal Partai Golkar itu juga meminta ini jangan dianggap sebagai sekadar kesalahpahaman teknis panitia.
Menurutnya, kejadian tidak senonoh itu menyentuh persoalan yang lebih krusial. Terutama, dalam menjaga kesakralan ajaran agama sekaligus merawat sensitivitas sosial dalam kehidupan berbangsa.
"Isra' Mi'raj adalah peristiwa suci yang menegaskan kedudukan salat, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT. Peringatannya bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum edukasi spiritual bagi umat," terangnya.
Singgih menegaskan, setiap aktivitas yang melekat pada peringatan Isra' Mi'raj harus mencerminkan nilai adab dan kepantasan.
"Dalih bahwa hiburan tersebut dilakukan setelah acara inti selesai tidak serta-merta menghapus persoalan. Dalam perspektif keagamaan, ruang, simbol, dan konteks memiliki makna yang tidak terpisahkan," imbuhnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi juga sangat menyayangkan peristiwa yang dinilai telah mencoreng nilai-nilai dakwah Islam tersebut. "Keluhuran dakwah justru tercoreng oleh tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islami," kata Wakil Ketua Umum DP MUI Banyuwangi, Sunandi Zubaidi.
Menurut dia, acara sakral seperti Isra' Mi'raj tidak boleh dicampuradukkan dengan hal-hal yang tidak pantas. "Perbuatan mulia seperti Isra' Mi'raj tidak seharusnya dicampur dengan aktivitas kemaksiatan, seperti mempertontonkan aurat, tarian erotis, dan ikhtilat," ucapnya. (*)
BERITA TERKAIT
-
Sinergi Polri dan Pemprov Kian Kuat, Gubernur Sulsel Hadiri Upacara Peringatan Hari Bhayangkara ke-80
-
Bupati Bantaeng Luncurkan Identitas Baru RSUD Prof Anwar Makkatutu, Wujudkan Transformasi Pelayanan Kesehatan
-
PT SCI Dorong Ekonomi Wisata, Hadirkan Citra Bira Lestari sebagai Investasi Baru Sulsel
-
Dampingi Menteri Agama di As’adiyah, Ali Yafid Soroti Peran Strategis Pesantren dalam Membangun SDM Umat
-
Hari Lahir Pancasila, Bupati Maros Tegaskan Nilai Kebangsaan Harus Hadir dalam Pelayanan Publik