Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Jumat, 16 Januari 2026 15:00

Ustad Ilham Hamid
Ustad Ilham Hamid

Dosen UIN Alauddin Ilham Hamid Bicara Soal Oleh-Oleh Isra Miraj

Isra adalah perjalanan horizontal Rasulullah SAW yang masih bisa dijangkau oleh akal, sementara Mi'raj Nabi adalah perjalanan vertikal yang tak bisa dijangkau oleh akal tetapi imanlah yang dapat menjangkaunya.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Ustad kondang Ilham Hamid berbicara terkait hari Isra miraj dalam konteks Islam Berkemajuan. Ia menuturkan, Rasulullah tidak membawa oleh-oleh Isra’ Mi‘raj berupa benda, tetapi sebuah sistem peradaban, oleh-oleh yang sangat luar biasa, yaitu salat lima waktu.

"Dengan shalat itulah yang melahirkan manusia. Tanha ‘anil fahsya’i wal munkar”(مَنْ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ) QS. Al-‘Ankabut: 45. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar," tuturnya, Jumat, 16 Januari 2026.

Makna Tanha ‘Anil Fahsya’i wal Munkar, lanjutnya, adalah bahwa salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Bukan berarti orang yang mengerjakan salat itu lalu otomatis jadi baik, tetapi dengan ia melaksanakan dan atau menegakkan salat berarti telah membangun sistem karakter, etika, adab, akhlak dan peradaban.

"Inilah yang dimaksud Islam berkemajuan," kata Ustad Ilham Hamid, yang juga merupakan Sekretaris Jurusan Manajemen Haji dan Umroh UIN Alauddin Makassar.

Lebih lanjut, ia menjelaskan mengapa Salat disebut oleh-oleh Isra’ Mi‘raj. Oleh karena salat diterima langsung tanpa perantara malaikat, di luar ruang dan waktu dunia.

"Menurut Prof Nasaruddin Umar bahwa Isra adalah perjalanan horizontal Rasulullah SAW yang masih bisa dijangkau oleh akal, sementara Mi'raj Nabi adalah perjalanan vertikal yang tak bisa dijangkau oleh akal tetapi imanlah yang dapat menjangkaunya," tuturnya.

"Sekali lagi, oleh-oleh terbesar Rasulullah adalah salat. Salat bukan ritual statis,

tapi mesin peradaban dan kemajuan umat. Maka makna tanha ‘anil fahsya’i wal munkar hari ini bukan hanya soal maksiat individual, tetapi fahsya’ modern, munkar modern seperti korupsi berjamaah, manipulasi data, kekerasan verbal dan digital, fitnah dan hoaks pelecehan jabatan, penyalahgunaan kekuasaan,

Hedonisme struktural dan ketidakadilan sistem," urainya.

Ia menyebut jika salat seseorang tidak membuatnya anti-korupsi, anti-hoaks, anti-kezaliman, maka salatnya belum naik ke langit Isra’. Dalam Islam berkemajuan  salat berfungsi sebagai: Revolusi Etika, Revolusi Mental, dan Revolusi Sosial.

"Salat sebagai revolusi etika bermakna untuk disiplin waktu, kejujuran niat, pengendalian diri. Salat sebagai  Revolusi Mental maknanya bahwa setiap  kita membaca Allahu Akbar berarti," Kita membesarkan Allah, tidak ada kekuasaan lebih tinggi dari kekuasaan Allah. Salat sebagai  Revolusi Sosial, yang diutamakan dalam salat adalah dengan berjamaah , dengan salat berjamaah akan menghapus, kelas sosial, status ekonomi, jabatan struktural, bahwa semua manusia sejajar di hadapan Tuhan," tambahnya

Oleh-oleh Isra’ Mi‘raj Bukan untuk Langit, tapi untuk Bumi

Rasulullah naik ke langit, tetapi oleh-olehnya diturunkan ke bumi. Metika Nabi miraj, sesungguhnya Nabi sudah berada pada zona nyaman, apalagi sudah berjumpa dengan Allah. Itulah kenikmatan yang paling puncak ketika seorang hamba bertemu dengan Rabb-NYA ( QS. Al-Kahfi 110) ,

"Katakanlah (Nabi Muhammad),  Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya," ucapnya.

Ia menuturkan, saking cintanya Nabi kepada ummatnya, sehingga ia turun kembali ke bumi, selalu mengingat panggilan ummati.

"Ummati.. ummati.. sehingga buru-buru untuk kembali ke bumi. Tentu tujuannya adalah agar ummatnya menegakkan Salat 5 waktu, sehingga apabila salat benar-benar ditegakkan, maka dapat menghalangi tangan dari korupsi, menjaga lisan dari fitnah, menahan hati dari kesombongan, menguatkan kejujuran, keadilan dan harkat kemanusiaan yang merupakan nilai-nilai universal kehidupan, ummat tidak zalim, tidak memanipulasi agama, tidak membungkus kebatilan dengan simbol kesalehan," tegasnya.

Ia menyimpulkan bahwa jka Isra’ Mi‘raj hari ini terjadi, Nabi tidak akan bertanya Berapa rakaat salatmu, tetapi apa yang berhasil kau hentikan dari kebatilan setelah salatmu.

"Inilah makna tanha ‘anil fahsya’i wal munkar dalam wajah Islam Berkemajuan. Mari kita jadikan salat bukan sekadar kewajiban, tetapi kekuatan moral yang membangun peradaban dan karakter mulia akhlaqul karimah," pesannya. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Ustad Ilham Hamid #UIN Alauddin Makassar