Hujan dan Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Sejumlah Kendaraan di Jalan Tupai Makassar
01 Februari 2026 14:50
Cucu Buya Hamka, Ali Akbar Hasyemi didaulat menjadi Ketua Divisi Wawasan Global DPP Partai Gelora Indonesia. Posisi ini sangat penting dan strategis karena menyangkut penguatan narasi, wawasan global kepada seluruh lapisan masyarakat.
JAKARTA, BUKAMATANEWS - Ada yang menarik pada pelantikan pengurus DPP Partai Gelora Indonesia periode 2024-2029 pada acara pelantikan 23 Februari 2025 di Jakarta. Yaitu bergabungnya cucu Buya Hamka, Ali Akbar Hasyemi, dalam jajaran pengurus pusat.
Akbar - sapaan akrabnya - didaulat menjadi Ketua Divisi Wawasan Global DPP Partai Gelora Indonesia. Posisi ini sangat penting dan strategis karena menyangkut penguatan narasi, wawasan global kepada seluruh lapisan masyarakat.
Siapa yang tidak kenal Buya Hamka? Tokoh bangsa, pemikir Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah seorang ulama, sastrawan, dan aktivis politik Indonesia. Ia lahir pada tanggal 17 Februari 1908 di Agam, Sumatera Barat, dan meninggal pada tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta.
Buya Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh Islam terkemuka di Indonesia. Ia memiliki peran penting dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia dan menjadi salah satu pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Selain itu, Buya Hamka juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang produktif. Ia menulis banyak buku, artikel, dan puisi yang membahas tentang agama, sejarah, dan budaya. Karyanya yang paling terkenal adalah novel "Tenggelamnya Kapal van der Wijck" yang diterbitkan pada tahun 1939.
Buya Hamka juga aktif dalam politik dan menjadi anggota Konstituante pada tahun 1956. Ia juga menjadi Menteri Agama pada tahun 1946 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1950.
Akbar ternyata memiliki alasan khusus sehingga bergabung dengan Partai Gelora Indonesia.
"Yang pertama ini partai yang rasional, dalam artian menjadi seorang yang nasionalis juga bisa seorang yang religius serta sebaliknya. Tidak usah dibentur-benturkan antara religius dan nasionalis, karena itu merupakan satu kesatuan. Dalam menjaga aqidah, juga kita diperintahkan untuk membela negara," ujarnya.
Melihat jawaban Akbar diatas menunjukan darah kakeknya yang ulama dan negarawan sekaligus mengalir dalam jiwanya.
"Yang kedua mungkin ini arahan langsung dari "Tanah Kusir" (maksud bercanda sambil tertawa) agar Akbar mencari partai yang bisa menempatkan agama dan negara dalam kedudukan yang sama," jawab Akbar.
Seperti diketahui, Buya Hamka dimakamkan di Tanah Kusir.
Dengan bergabungnya cucu Buya Hamka yang masih berusia 30 tahun ini membuktikan bahwa Partai Gelora mulai digandrungi oleh anak-anak muda yang merindukan tempat yang memberikan ruang baginya untuk berkreasi dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Jika melihat komposisi pengurus partai Gelora Indonesia yang baru, mulai dari pusat sampai daerah, tampak didominasi anak muda, keterlibatan perempuan yang tinggi dan keberagaman latar sosial, budaya dan profesi. (*)
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33
01 Februari 2026 10:24
31 Januari 2026 21:37
01 Februari 2026 10:33
01 Februari 2026 10:24
01 Februari 2026 14:50