BUKAMATA - Mayoritas bursa saham di Asia-Pasifik kembali mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (6/7/2023). Sentimen negatif ini dipicu oleh indikasi bank sentral Amerika Serikat (AS) bahwa kenaikan suku bunga masih diperlukan guna mengendalikan inflasi, meskipun laju kenaikannya diperkirakan akan melambat.
Pada pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,2%, Hang Seng Hong Kong melemah 1,41%, Shanghai Composite China terpangkas 0,22%, Straits Times Singapura merosot 0,47%, ASX 200 Australia turun 1%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,36%.
Penurunan bursa Asia-Pasifik ini terjadi setelah Wall Street mengalami koreksi pada perdagangan Rabu kemarin, setelah beberapa hari sebelumnya menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 0,38%, S&P 500 terkoreksi 0,16%, dan Nasdaq Composite berakhir dengan penurunan 0,14%.
Ketegangan di bursa saham muncul setelah Federal Open Market Committee (FOMC) merilis risalah pertemuan terakhir mereka. Dalam risalah tersebut, Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan adanya kenaikan suku bunga, namun dalam tingkat yang lebih rendah dan dengan kecepatan yang lebih lambat.
Dari 18 peserta FOMC, hanya dua yang menginginkan satu kenaikan suku bunga lagi, sedangkan 12 peserta lainnya menginginkan dua kenaikan suku bunga atau lebih. The Fed sendiri telah meningkatkan suku bunga acuan sebanyak 10 kali sejak Maret 2022 dan saat ini berada pada kisaran 5,0-5,25%.
Komentar Ketua The Fed, Jerome Powell, mengindikasikan bahwa pejabat bank sentral ingin lebih banyak waktu untuk mengevaluasi data ekonomi terkait dengan kenaikan suku bunga sebelumnya, serta untuk menangani dampak dari kejatuhan sektor keuangan pada Maret lalu.
Selain itu, investor juga memantau data pesanan pabrik AS untuk bulan Mei yang dirilis pada Rabu. Data tersebut menunjukkan sedikit perubahan dibandingkan dengan periode April, dengan kenaikan 0,3%.
Tak hanya itu, perhatian pasar juga masih tertuju pada perkembangan ketegangan antara AS dan China terkait pembatasan ekspor dan transfer teknologi semikonduktor. Hal ini dapat mempengaruhi sentimen pasar dan menjadi sorotan utama dalam berita terkini.
Pernyataan terbaru dari Presiden China, Xi Jinping, yang mengimbau negara-negara untuk menghindari pemutusan hubungan dan pemotongan rantai pasokan, menjadi kontras dengan langkah China yang baru-baru ini memberlakukan batasan ekspor pada dua logam utama yang digunakan untuk produksi chip sebagai respons terhadap pembatasan Barat.
AS juga telah mengambil langkah yang semakin tegas dalam mengendalikan kemajuan teknologi China, terutama dalam upaya membatasi perkembangan militer China. AS telah berupaya meyakinkan sekutu di Eropa dan Asia untuk mengambil langkah serupa.
Baru-baru ini, AS sedang mempertimbangkan pembatasan akses perusahaan China ke layanan komputasi awan AS. Langkah ini dapat memperburuk hubungan antara dua kekuatan ekonomi dunia tersebut. Sumber-sumber anonim melaporkan bahwa langkah ini bertujuan untuk membatasi akses China terhadap teknologi canggih AS dan melindungi keamanan nasional AS.
Ketegangan antara China dan AS dalam hal pembatasan ekspor dan transfer teknologi semikonduktor terus menjadi perhatian pasar. Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh perkembangan konflik ini, karena dapat berdampak signifikan pada industri teknologi dan perdagangan internasional.
Di samping itu, para investor juga tetap memantau kebijakan bank sentral AS terkait suku bunga. Meskipun bank sentral mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga akan melambat, tetap ada ketidakpastian mengenai kebijakan selanjutnya dan dampaknya terhadap pasar keuangan global.
Selain faktor-faktor tersebut, pergerakan bursa saham di Asia-Pasifik juga dapat dipengaruhi oleh berita dan perkembangan ekonomi, politik, serta kondisi global lainnya. Para investor perlu memperhatikan secara cermat perkembangan pasar dan melakukan analisis yang teliti sebelum mengambil keputusan investasi.