JENEPONTO, BUKAMATA - Proyek Pembangunan Jembatan yang menghubungkan tiga Kecamatan di Jeneponto yakni Kecamatan Turatea, Binamu dan Kelara tidak kunjung selesai atau diduga mangkrak.
Masyarakat pun mengungkapkan kekecewaannya dengan melakukan protes, tepatnya di Desa Bontomate'ne, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Aktivis Anti Korupsi Jeneponto, Subair mengatakan, anggaran bantuan hibah dengan pagu kurang lebih Rp9 milliar rupiah tahun anggaran 2022 dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jeneponto, rupanya menuai kritikan.
"Pagunya Kurang lebih Rp9 miliar Jembatan Munte, itu sudah termasuk dari yang Rp18 miliar, hanya saja dari besarannya terbagi kegiatannya ada ternak Sapi dan Infrastruktur," bebernya.
Diketahui, Jembatan Munte pernah diterjang banjir bandang pada tahun 2019 lalu. Namun hingga kini pemenang tender CV.Citra Lestari Mandiri belum menyelesaikan proyek tersebut.
"Jika mengacu pada aturan, pedoman hibah dari BPBD yang diterapkan. Asas manfaatnya tidak ada, Jembatan ini belum selesai dengan nilai kontrak Rp 8,7 miliar rupiah," sebutnya
Subair menambahkan, kalau memang pemanfaatan dana hibah 12 bulan, maka proses yang harus dilaksanakan oleh Kepala BPBD adalah membuat surat pernyataan secara tertulis.
"Hemat saya, surat pernyataan pun pasti ada indikator sesuai aturan di Perkap BNPB. Dan bukan hanya masalah keterlambatan waktu pekerjaan, tapi waktu pemanfaatan dana hibah yang habis", jelasnya
BERITA TERKAIT
-
Turis Asal China Meninggal saat Surfing di Jeneponto
-
Cerita Dg Caya Temukan Jasad Ibunya di Dalam Koper
-
Nelayan Dilaporkan Hilang saat Cari Ikan di Pantai Bira Ditemukan di Perairan Jeneponto
-
Resmob Polda Sulsel Tangkap Pemuda Pelaku Penikaman Terhadap Warga di Jeneponto, 2 Masih Buron
-
Dipicu Knalpot Brong, 2 Remaja di Jeneponto Ditikam