Muh. Taufik
Muh. Taufik

Rabu, 23 November 2022 22:02

Sidang Kasus Pembunuhan Pegawai Dishub Makassar Jadi Tegang saat Suara Hakim Meninggi Gegara Uang Rp 90 Juta

Sidang Kasus Pembunuhan Pegawai Dishub Makassar Jadi Tegang saat Suara Hakim Meninggi Gegara Uang Rp 90 Juta

Uang Rp 90 juta itu disebut-sebut sebagai balas jasa karena telah menghabisi nyawa Najamuddin dengan cara ditembak mati oleh terdakwa Chaerul Akmal di Jalan Danau Metro Tanjung Bunga

MAKASSAR, BUKAMATA - Suasana di ruang sidang Pengadilan Negeri Makassar sempat tegang. Itu dikarenakan hakim ketua, Johnicol Richard yang memimpin sidang kasus pembunuhan pegawai Dishub Makassar, Najamuddin Sewang membahas soal uang Rp 90 Juta.

Uang Rp 90 juta itu disebut-sebut sebagai balas jasa karena telah menghabisi nyawa Najamuddin dengan cara ditembak mati oleh terdakwa Chaerul Akmal di Jalan Danau Metro Tanjung Bunga, Makassar, Minggu 3 April 2022 lalu.

Uang itu diketahui dikeluarkan Iqbal lalu diserahkan ke terdakwa M Asri, selaku ajudannya. Kemudian Asri menyerahkan uang itu ke Sulaiman dan diserahkan lagi ke Chaerul selaku eksekutor usai membunuh Najamuddin.

Namun dalam persidangan, Iqbal tidak menyebut bahwa uang tersebut sebagai balas jasa telah menghabisi nyawa Najamuddin.

Iqbal mengaku bahwa uang itu ia bagikan kepada rekannya yang ia sebut mitra, jelang bulan suci Ramadan.

"Apakah saudara pernah berikan uang kepada Sulaiman? (Rp 20 juta dan kedua Rp 90 juta)," tanya hakim ketua, Johnicol.

"Yang Rp 20 juta itu dibagikan kepada teman-teman jelang puasa," jawab Iqbal.

"Kalau uang Rp 90 juta itu diberikan ke Sulaiman melalui Asri untuk apa?," tanya lagi hakim ke Iqbal.

"Itu untuk kepentingan mitra-mitra juga Yang Mulia. Banyak memang kebutuhan (jelang Ramadan)," ungkapnya.

Kemudian di pertanyaan selanjutnya, nada suara Johnicol meninggi. Dia mulai heran.

Hal itu karena Iqbal rela mengeluarkan uang puluhan juta, yang kata dia untuk biaya operasional Satpol PP Makassar.

Padahal anggaran tersebut sudah disiapkan dalam APBD.

"Ini mitra ini uang sebanyak itu tidak sedikit loh Rp 90 juta di masa pandemi Covid. Nanti orang beli beras 1 kilogram ajah sudah. Saudara hamburkan uang Rp 90 juta ke mitra itu untuk apa maksud dan tujuannya?," tanya Johnicol dengan suara keras.

"Kepentingan operasional Yang Mulia," jawab Iqbal dengan suara rendah.

"Uang operasional daripada siapa?," tanya lagi.

"Mitra terkait dengan pekerjaan saya sebagai Kasatpol PP," jawabnya.

"Anggaran operasional Satpol PP apakah disediakan dalam anggaran APBD atau tidak?," tanya lagi ke Iqbal dengan suara keras.

"Disiapkan," jawab Iqbal secara singkat.

"Kalau sudah disiapkan kenapa ada lagi anggaran untuk hamburkan ke mitra-mitra?," tanya hakim yang heran.

"tu untuk persiapan (ramadan) karena terkadang itu operasional tidak langsung cair Yang Mulia," jawabnya.

"Dalam hal pelaksanaan apa saja kalau begitu yang diberikan kepada mitra ini?," tanya lagi Johnicol.

"Biasanya terkait misal ada pertemuan-pertemuan," jelas Iqbal.

Kemudian nada suara hakim kembali mengeras. Menurutnya, Satpol PP tak seharusnya menggelar pertemuan bila sudah mengantongi anggaran dari pemerintah.

"Pertemuan bagaimana? Pol PP itu langsung penindakan di lapangan. Rapat segala macam tidak ada. Ada pedagang kaki lima, hajar! Pang! Perda kita tegakkan," tegas hakim.

"Dalam pertemuan itu ada tim Muspida," jawab Iqbal.

"Uang Rp 90 juta itu bersumber darimana?," tanya lagi hakim.

"Itu dari uang pribadi," jawabnya.

Penulis : Abdul Mugni
#Polrestabes Makassar

Berita Populer