Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Sabtu, 19 November 2022 21:53

Menteri Sosial, Tri Rismaharini, mengunjungi lokasi bencana longsor di Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten, Gowa, Sabtu, 19 November 2022.
Menteri Sosial, Tri Rismaharini, mengunjungi lokasi bencana longsor di Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten, Gowa, Sabtu, 19 November 2022.

Rawan Longsor di Gowa, Mensos Risma Sebut Potongan Bambu Bisa Jadi Penahan Tanah

Di titik kunjungan, Risma mendatangi Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, yang merupakan titik longsor terparah dengan sebaran cukup luas.

GOWA, BUKAMATA - Menteri Sosial, Tri Rismaharini, mengunjungi lokasi bencana longsor di Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten, Gowa, Sabtu, 19 November 2022.

Di lokasi bencana, Risma mengamati dengan seksama kontur tanah di sekeliling titik longsor. Tampak adanya bagian dataran tinggi yang sebagian tanahnya gugur sebagai longsoran.

"Iya, (setelah melihat bekas longsoran) tadi, saya pikir nahannya harus dari atas ini, dengan menggunakan potongan-potongan bambu. Sebab, kalau di atas tidak ditahan, air itu akan mengalir sangat cepat dari atas ke bawah, kecepatannya bisa tinggi sekali," kata Risma dalam keterangannya.

Hadir bersama Mensos, Ketua Komisi VIII DPR RI Ashabul Kahfi, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, dan Wakil Bupati Gowa Abdul Rauf Malaganni. Terkait peran penting kearifan lokal, menjadi perhatian Mensos dalam beberapa kunjungannya ke sejumlah daerah.

Di titik kunjungan, Risma mendatangi Desa Lonjoboko, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, yang merupakan titik longsor terparah dengan sebaran cukup luas. Potensi bahaya semakin terbuka dengan adanya sungai di hulu yang siap mengalirkan air dengan debit tinggi bila hujan lebat.

Bila tidak dicarikan jalan keluar, aliran air dari sungai akan meluncur deras ke bawah, dan berpotensi menggugurkan tanah di sekitarnya ke area jalan raya dan pemukiman warga.

"Nah, ternyata Pak Gubernur dan Pak Wabup tadi juga menyampaikan bahwa di atas ada sungai. Sungai itu bisa kita perdalam ceruknya untuk menahan laju air karena kalo air itu tumpah, dia ke bawah, (laju air) ini semakin kencang, dia akan jadi seperti air terjun," kata Mensos.

Namun, bila laju air di atas ditahan, maka akan mengurangi risiko bencana.

"Sebetulnya, cara ini sangat tradisional dan sudah ada dari dulu, dilakukan oleh nenek moyang kita," kata dia.

Menurutnya, cara sederhana dengan mengangkat kearifan lokal seperti ini justru lebih mampu bertahan lama.

"Kalo kita lakukan dengan kearifan lokal, saya pikir, itu jauh lebih sustainable daripada kalo kita buat proyek-proyek (yang menghabiskan lebih banyak dana)," ucap Risma. (*)

Penulis : Abdul Mugni
#Menteri Sosial RI Tri Rismaharini #Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman #Bencana longsor