Agar APBN Tak Jebol, Rakyat Harus Legowo Harga Pertalite Naik. Siap?
Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan masyarakat harus memberikan pengertian kepada pemerintah jika kemudian pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi.
BUKAMATA - Pemerintah Indonesia mulai memberikan signal bahwa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak lagi kuat menahan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk rakyat yaitu Pertalite.
Minyak dunia yang terus merangkak naik membuat subsidi BBM Indonesia membengkak hingga mencapai Rp500 triliun. Jumlah tersebut sudah mencapai 3 lipat dari estimasi awal subsidi BBM sebesar Rp170 triliun.
Sementara itu tren kenaikan minyak mentah terus terjadi, jika pemerintah masih menahan harga pertalite seperti saat ini, maka subsidi akan kembali naik bahkan mencapai Rp600 triliun.
Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan masyarakat harus memberikan pengertian kepada pemerintah jika kemudian pemerintah harus menaikkan harga BBM bersubsidi.
"Jadi tolong teman-teman sampaikan juga kepada rakyat rasa-rasanya sih untuk menahan terus harga BBM seperti sekarang, feeling saya (tidak kuat). Ini tidak sehat. Mohon pengertian baiknya. (Jadi) harus kita siap-siap kalau katakanlah kenaikan BBM itu terjadi," katanya dalam konferensi pers Jumat (12/8).
Bahlil menambahkan jika pemerintah terus menahan laju harga BBM bersubsidi dengan menggunakan APBN, maka lama kelamaan APBN akan bermasalah. Pasalnya anggaran Rp500 triliun hingga Rp600 triliun mencapai 25 persen dari total APBN.
Setali tiga uang, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan subsidi energi berpotensi tembus Rp1.000 triliun tahun ini.
Arifin mengungkapkan proyeksi itu dihitung dengan skenario terburuk jika harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) mencapai USD200 per barel.
Terakhir, Kementerian ESDM menetapkan ICP turun USD10,89 dari USD117,62 per barel menjadi USD106,73 per barel pada Juli 2022.
"Kalau worst case bisa jadi USD200 per barel. Kalau jadi USD200 per barel, kalikan saja sekian triliun (subsidi energi saat ini) kali dua saja. Gampang-gampangnya begitu," ujar Arifin dikutip dari CNNIndonesia
Jika mengikuti skenario Kementerian ESDM dengan asumsi ICP bakal tembus US$200 per barel, maka subsidi energi berpotensi bengkak mencapai lebih dari Rp1.000 triliun
News Feed
Gubernur Sulsel Resmikan Jembatan Sungai Balampangi Penghubung Sinjai - Bulukumba
31 Januari 2026 21:37
