Muh. Taufik
Muh. Taufik

Senin, 25 Oktober 2021 15:11

Ciptakan Konten Menarik Tanpa Melanggar Etika dan Hak Cipta

Ciptakan Konten Menarik Tanpa Melanggar Etika dan Hak Cipta

Kemampuan dasar yang harus dimiliki anak di era digital, yakni teknik penggunaan perangkat, literasi media termasuk pengelolaan informasi, dan bersosial di internet

MAKASSAR, BUKAMATA – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 25 Oktober 2021 di Makassar, Sulawesi Selatan. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema saat ini adalah “Pilihan dan Peluang Karir di Dunia Digital”.

Empat orang narasumber tampil dalam seminar kali ini. Masing-masing yakni, CEO Next Generation (NXG) Indonesia, Khemal Andrias; pemengaruh, Farisa Efendi; dosen ilmu komunikasi Universitas Fajar, Mariesa Giswandhani; dan Managing Partner Funco Law Office, Muhammad Firdaus. Sedangkan moderator yaitu Sinta Pramucitra. Kegiatan yang kembali diadakan di Makassar ini diikuti oleh 690 peserta dari berbagai kalangan usia maupun profesi. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Acara dimulai dengan video sambutan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Beralih ke sesi materi, Khemal Andrias sebagai narasumber pertama menyampaikan tema “Menyambut Generasi Alfa, Peluang dan Tantangan Keterampilan Digital”. Menurut Khemal, kemampuan dasar yang harus dimiliki anak di era digital, yakni teknik penggunaan perangkat, literasi media termasuk pengelolaan informasi, dan bersosial di internet. Adapun, sejumlah keterampilan digital yang tengah berkembang, yaitu analisis data, kreator konten, atau digital marketing. Namun, "Berdasarkan berbagai hasil riset, yang paling banyak digunakan generasi alfa, yaitu menonton Youtube; bermain video game; baru mencari informasi, itupun sedikit sekali angkanya," ujarnya.

Selanjutnya, Farisa Efendi menyampaikan paparan berjudul “Konten Digital yang Boleh dan Tak Boleh”. Ia mengatakan, pedoman membuat konten yang baik, diantaranya orisinal, bisa memberi jawaban, menarik dan viral, bersifat visual atau grafis, serta selalu update. Etika yang perlu dipatuhi dalam pembuatan konten, yaitu memikirkan konsep, memahami target, serta tidak meniru karya orang lain. "Juga, jangan mengunggah konten yang sensual," imbuhnya.

Pemateri ketiga, Mariesa Giswandhani, memaparkan materi bertema “Nabung atau Belanja Online”. Menurut dia, sebanyak 88,1% dari total pengguna internet di Indonesia menggunakan e-dagang untuk berbelanja. Perilaku konsumtif warganet umumnya dipengaruhi oleh kemudahan berbelanja di dunia maya. Oleh sebab itu, pengguna internet harus mampu mengasah kecakapan berbelanjanya, misalnya dengan membuat skala prioritas, memeriksa review dan deskripsi barang, serta memulai investasi digital, walaupun dengan jumlah modal yang kecil. "M-Banking sulit untuk membuat menabung, sehingga gunakanlah rekening yang konvensional," sarannya.

Muhammad Firdaus, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan paparan berjudul “Perlindungan Hak Cipta di Ranah Digital”. Ia mengatakan, pemegang hak cipta memiliki hak ekonomi dari suatu produk. Yakni, untuk melaksanakan sendiri, memberikan izin, ataupun melarang pihak lain dalam sinkronisasi atau penggabungan dengan ciptaan lain, mekanik atau penggandaan, serta mengumumkan atau performing rights. “Warganet seharusnya tahu akan hak orang lain ini, agar tidak mengalami penuntutan di kemudian hari karena menggunakan hak cipta tanpa izin,” ujar dia.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu Sinta Pramucitra. Para peserta tampak antusias dan mengirimkan banyak pertanyaan. Panitia memberikan uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah seorang peserta, Adi Prastya, bertanya tentang seberapa penting inovasi dalam membangun bisnis daring. Menanggapi hal itu, Mariesa Giswandhani bilang, dalam berbisnis, hal yang pertama dilakukan adalah konsistensi dalam membuat produk. Selanjutnya, pengusaha juga harus memikirkan inovasi produk untuk dapat bersaing dan menarik pelanggan baru.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

#Kominfo RI

Berita Populer