Redaksi : Sabtu, 12 Juni 2021 21:21

MAKASSAR, BUKAMATA - Seseorang yang tidak cinta terhadap tanah airnya, artinya belum memiliki iman yang sempurna. Hal ini diungkapkan Dr. K.H Kaswad Sartono, Sabtu (12/6/2021), dalam Dialog Publik yang dilaksanakan DPD PDI Perjuangan Sulsel dengan tema Tantangan Pancasila.

"Dalam konteks ke NU an, negara itu adalah bagian dari Islam. Itu sehingga Kiai Haji Hasyim Asy'ari menyampaikan Hubbul Wathon minal Iman, cinta tanah air itu sebagian dari iman. Jadi kalau orang tidak cinta tanah airnya, itu artinya keimanannya belum sempurna," jelasnya.

Ketua Tanfiziah Nahdhatul Ulama Kota Makassar ini melanjutkan, terkait dengan Indonesia, di dalam kehidupan berbangsa itu harus dibedakan dengan beragama. "Terakhir ada dialog, pilih Al-Qur'an atau Pancasila. Ini pikiran yang menyesatkan, tidak mungkin Al Qur'an disejajarkan dengan Pancasila," tegasnya.

Menurut K.H Kaswad Sartono, keduanya tidak bisa dibandingkan lantaran Al Qur'an adalah Qolamullah atau Wahyu Allah, sedangkan Pancasila adalah ijtihad hasil pemikiran kader-kader terbaik umat yang mengambil dari intisari-intisari kehidupan dari Sabang sampai Merauke.

"Oleh karena itu, apabila ada orang yang menyandingkan. Inilah sebenarnya orang yang sesungguhnya tidak paham. Masa suruh pilih Nabi Muhammad dengan Pak Raisuljaiz. Itu dua hal yang tidak seimbang," tegasnya.

Pada kesempatan itu, Andi Ridwan Wittiri menyampaikan bahwa Pancasila di desain dan dibungkus menjadi ideologi falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Itulah kemudian yang membuat Pancasila hingga hari ini tak lekang oleh waktu hingga kondisi kekinian,” kata legislator DPR RI ini.

Ia menambahkan, Pancasila yang diwariskan oleh pendiri bangsa Soekarno atau yang akrab disapa Bung Karno ini harus dihadirkan secara nyata dalam kehidupan kita.

“Pancasila harus menjadi hidup dan bekerja dalam kehidupan kita, nilai yang ada bergelora dalam jiwa dan raga kita,” ungkapnya.

Sementara, Iqbal Arifin lebih memaparkan tentang nilai-nilai dan prinsip dasar Pancasila. Selain itu ia menjelaskan bahwa yang menjadi tantangan kedepan adalah proses globalisasi yang bisa mempengaruhi berbangsa dan bernegara.

“Olehnya itu bagaimana kedepan Pancasila ini tetap eksis di tengah perkembangan global,” jelasnya.

Ia berharap, semua elemen dapat mensosialisasikan tentang pancasila.

“Mestinya bukan hanya PDIP yang melakukan hal ini. Tetapi semua elemen, setiap saat, setiap waktu dan dalam kesempatan harus didiskusikan tentang Pancasila kalau bisa melibatkan anak muda, karena menjadi penerus bangsa,” ujarnya.

Selain Dr. K.H Kaswad Sartono, narasumber lain yang hadir pada dialog publik ini yaitu, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis dan Kader Utama atau Guru Kader PDI Perjuangan Sulsel Iqbal Arifin.