BUKAMATA - Pengeboman Israel di Jalur Gaza telah berlagsung selama lima hari berturut-turut, dan merenggut lebih 100 nyawa.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 139 warga orang, termasuk sekitar 40 anak-anak, telah tewas di Jalur Gaza sejak Senin. Sekitar 950 lainnya terluka.
Pada Jumat malam, serangan udara Israel menghantam kamp pengungsi dan menyebabkan 10 warga Palestina, termasuk delapan anak-anak tewas.
Serangan itu menargetkan bangunan tiga lantai di tepi kamp pengungsi al-Shati.
"Kami masih berusaha untuk menemukan lebih banyak jenazah dan mencoba memahami siapa adalah siapa," kata Nabil Abu al-Reesh, seorang dokter yang berbasis di Jalur Gaza.
“Ini benar-benar pembantaian yang tidak bisa kami gambarkan dengan kata-kata,” katanya.
"Saya tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan hidup," tambahnya, menunjuk pada seorang bayi yang merupakan satu-satunya yang selamat dari sebuah keluarga yang terbunuh oleh serangan udara Israel.
“Mungkin dia selamat untuk menyaksikan apa yang terjadi pada anggota keluarganya yang lain,” katanya.
Pada Sabtu dini hari, petugas penyelamat masih berusaha menarik mayat dari bawah reruntuhan.
Hamas pun menanggapi serangan terbaru Israel dengan menembakkan rentetan roket ke arah kota Askhelon dan Ashdod di Israel selatan. Tidak ada korban yang dilaporkan dari serangan itu.
Ketika kekerasan meningkat, krisis kemanusiaan semakin memburuk, sehingga memaksa ribuan keluarga Palestina berlindung di sekolah-sekolah yang dikelola Perserikatan Bangsa-Bangsa di Gaza utara untuk menghindari tembakan artileri Israel.
PBB mengatakan diperkirakan sekitar 10.000 warga Palestina telah meninggalkan rumah mereka di Gaza di tengah serangan Israel.
Pada hari Sabtu, Warga Palestina memperingati 73 tahun sejak pembersihan etnis di tanah air mereka oleh milisi Zionis untuk menciptakan negara Israel. Peristiwa itu disebut Nakba, atau "Bencana", dalam sejarah Palestina.