JAKARTA, BUKAMATA - Pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat menilai Presiden Jokowi bicara Bipang (Babi Panggang) Ambawang dalam konteks yang menjelang hari raya sangat keliru dan jangan dicontoh oleh masyarakat dan kaum milenial.
“Ramadan itu bulan suci, dan babi itu haram dan najis dalam kepercayaan muslim. Menggabungkan keduanya dalam satu even pidato adalah ramuan pidato yang keliru dan tidak boleh dicontoh,” ujar Achmad Nur Hidayat yang disapa ANH.
ANH berpendapat dalam berkomunikasi publik pemerintah saat ini sedang mengalami kemunduran luar biasa.
“Komunikasi publik Pemerintah sedang mundur luar biasa. Belum selesai polemik THR PNS tanpa Tukin, lalu isu Mudik dan kedatangan TKA China, isu Pemindahan Ibukota di saat pandemi kini pidato Babi Panggang menjelang hari raya. Mengindikasikan dapur komunikasi pemerintah sedang rapuh dan galau,” ujar ANH.
ANH berharap tim komunikasi Presiden dievaluasi karena membuat malu presiden seolah-olah Presiden Indonesia tidak memahami perasaan rakyatnya.
ANH menyarankan dapur komunikasi Presiden untuk memperbaiki narasi pidatonya presiden yang lebih berkelas, lebih menyejukkan dan lebih mendekatkan Presiden dengan rakyat khususnya di bulan suci yang penuh berkah ini.
“Ekonomi sedang resesi, rakyat sedang diuji berat karena pandemi maka suasana krisis dan keprihatinan Presiden harus dikedepankan, perasaan Presiden harus senafas dengan perasaan Rakyat. Bicara Babi Panggang di suasana menjelang hari raya jelas bukan tidak menunjukan perasaaan senafas dengan mayoritas rakyat yang sedang berpuasa dan sedang meningkatkan iman takwa rakyat. Semoga dapur komunikasi ini segera memperbaiki agar narasi Presiden lebih baik,” tutup ANH yang juga merupakan Direktur Eksekutif Narasi Institute.
BERITA TERKAIT
-
Indonesia Diminta Bersikap Tegas Tindak Pembakaran Al Quran di Swedia
-
Ekonom: Pandora Papers Sinyal Ada Persoalan Etika Pejabat Publik dan Lemahnya Reformasi Perpajakan
-
Ekonom Achmad Nur Hidayat Sarankan Satgas BLBI tidak Gaduh
-
Pakar: Indonesia Butuh Cara Ekonomi Baru untuk Keluar dari Jebakan Ketimpangan Ekonomi
-
Pakar: Efek Taper Tantrum FED 2021-2022 Tidak Separah 2013, Tapi Tetap Waspada