PSM Makassar Siap Tantang Persis Solo di Manahan: Trucha Lakukan Rotasi, Abu Kamara Starter
29 November 2025 19:07
Sebelum dibuang ke laut air akan diolah dan diencerkan sehingga tingkat radiasinya di bawah ketetapan untuk air minum.
BUKAMATA - Pemerintah Jepang telah menyetujui rencana untuk melepaskan lebih satu juta ton air yang terkontaminasi dari pembangkit nuklir Fukushima ke laut.

Namun, sebelum itu dilakukan, air akan diolah dan diencerkan sehingga tingkat radiasinya di bawah ketetapan untuk air minum.
Pelepasan air ini bertujuan untuk mendinginkan bahan bakar nuklir, yang akan dimulai dalam waktu sekitar dua tahun.
Persetujuan akhir tersebut diberikan setelah melewati perdebatan bertahun-tahun dan diperkirakan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk penyelesaiannya.
Tetapi industri perikanan lokal sangat menentang langkah tersebut, seperti halnya China dan Korea Selatan.
Saat ini, air radioaktif diolah dalam proses penyaringan kompleks untuk menghilangkan sebagian besar elemen radioaktif, tetapi beberapa tetap ada, termasuk tritium, yang dianggap berbahaya bagi manusia, dalam dosis yang sangat besar.
Air kemudian disimpan dalam tangki besar, tetapi operator pabrik Tokyo Electric Power Co (TepCo) kehabisan ruang.Tangki-tangki ini diperkirakan akan terisi semua pada tahun 2022.
Menurut laporan Reuters, sekitar 1,3 juta ton air radioaktif atau cukup untuk mengisi 500 kolam renang ukuran olimpiade, saat ini disimpan di tangki tersebut.
Penolakan dari berbagai pihak
Kelompok lingkungan seperti Greenpeace telah lama menyatakan penolakannya untuk melepaskan air ke laut. LSM tersebut mengatakan bahwa rencana tersebut menunjukkan bahwa pemerintah "sekali lagi mengecewakan rakyat Fukushima".
Industri perikanan negara juga tidak senang dengan langkah itu. Mereka khawatir konsumen akan menolak untuk membeli produk dari daerah tersebut.
Industri ini telah terpukul sangat parah setelah bencana tahun 2011, di mana banyak negara melarang impor makanan laut yang ditangkap di lepas pantai timur laut Jepang.
Keputusan itu juga memicu kecaman dari negara tetangga Jepang.
Menjelang keputusan itu, menteri luar negeri Korea Selatan pada Senin mengungkapkan "penyesalan yang serius".
Juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian juga mendesak Jepang untuk "bertindak secara bertanggung jawab".
"Untuk melindungi kepentingan publik internasional serta kesehatan dan keselamatan rakyat China, China telah menyatakan keprihatinan besar kepada pihak Jepang melalui saluran diplomatik," kata Zhao.
Namun, AS tampaknya mendukung keputusan Jepang, dengan mengatakan bahwa negara itu tampaknya telah "mengadopsi pendekatan sesuai dengan standar keselamatan nuklir yang diterima secara global".
Seberapa amankah air ini?
Jepang berpendapat bahwa pembuangan air limbah aman karena diproses untuk menghilangkan hampir semua elemen radioaktif dan akan sangat encer.
Rencana tersebut mendapat dukungan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang mengatakan pelepasan tersebut mirip dengan pembuangan air limbah di pabrik lain di seluruh dunia.
"Pelepasan ke laut dilakukan di tempat lain. Ini bukan sesuatu yang baru. Tidak ada skandal di sini," kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi pada 2021.
Ilmuwan berpendapat bahwa unsur-unsur yang tersisa di dalam air hanya berbahaya bagi manusia dalam dosis besar. Dengan pengenceran, air yang diolah tidak menimbulkan risiko yang dapat dideteksi secara ilmiah, kata mereka.
Namun, radiasi dari tritium dapat tertelan, itulah sebabnya kelompok industri perikanan khawatir tentang risikonya masuk ke rantai makanan dan dikonsumsi melalui makanan laut.
Apa yang terjadi di Fukushima?
Pada 11 Maret 2011, gempa bumi berkekuatan 9,0 melanda lepas pantai timur laut Jepang, memicu tsunami setinggi 15 meter.
Meskipun sistem cadangan untuk mencegah kehancuran di pembangkit nuklir Fukushima selamat dari gempa awal, namun tsunami menyebabkan kerusakan lebih lanjut.
Karena sistem pendingin fasilitas gagal pada hari-hari berikutnya, berton-ton bahan radioaktif dilepaskan. Keruntuhan tersebut merupakan kecelakaan nuklir terburuk sejak Chernobyl pada tahun 1986.
Sekitar 18.500 orang meninggal atau hilang dalam gempa dan tsunami tersebut, dan lebih dari 160.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
29 November 2025 19:07
29 November 2025 18:30
29 November 2025 17:11
29 November 2025 09:50
29 November 2025 11:25
29 November 2025 16:15
29 November 2025 12:27
29 November 2025 13:56