MAKASSAR, BUKAMATA - Ada dua hal yang tidak disukai Lukman, pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Jl Kajaolalido, Makassar. Dia tidak suka orang tuanya jika meminjam uang di bank, juga tidak suka barzanji. Lukman meyakini, hal tersebut bertentangan dengan ajaran yang dia pelajari.
Itu diungkap Ketua RT tempat Lukman bermukim di Kecamatan Bontoala, Makassar, Nuraeni. Menurut Nuraeni, Lukman kerap menegur ibunya W (50), jika meminjam uang di bank, juga mengikuti acara barzanji. Namun Nuraeni mempertegas, dia hanya menegur halus, bukan memarahi.
"Memang dia itu, hal-hal yang begitu, dia tegur. Jadi dia tidak marahi, cuma dia melarang toh. Dia cuma tegur, maksudnya dia kasi dengar saja ibunya bilang tidak bisa begitu," ungkap Nuraeni, Rabu (31/3/2021).
Lukman juga tidak memakan makanan dari acara barzanji. Apalagi daging hewan seperti ayam dan sapi.
Sebelumnya, dalam surat wasiatnya, Lukman juga mewanti-wanti ibunya agar tidak meminjam uang di bank. Katanya itu riba. Dia meninggalkan uang Rp2.350.000 untuk ibunya, guna melunasi utangnya di bank. Juga uang sewa kontrakan Rp500 ribu per bulan yang tersisa 5 bulan. Dia meminta uang itu dipakai untuk melunasi utang ibunya di bank.
Sebelumnya, Minggu, 28 Maret 2021, Lukman dan istrinya, Yogi Sahfitri Fortuna alias Dewi, meledakkan diri di depan Gereja Katedral Jl Kajaolalido Makassar. Lukman teridentifikasi dari kepalanya yang ditemukan terlempar di atas atap. Sedang tubuh Dewi, hancur dan berhamburan di lokasi.
Lukman dan Dewi sudah dimakamkan Selasa lalu, di Pallantikan, Kecamatan Maros Baru, Maros. Lukman dan Dewi dimakamkan satu lahad, di dekat makam ayah Lukman.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Selain di Polsek Astana Anyar, Ini 5 Bom Bunuh Diri di Kantor Polisi 10 Tahun Terakhir
-
Mantan Narapidana Teroris: Ada Rasa Kecewa yang Jadi Pemicu Bom Bunuh Diri
-
Pimpin Apel Pagi, Ini Penekanan Danyon Brimob Bone
-
Dewan Kecam Keras Aksi Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar
-
Polri Ungkap Identitas Pelaku Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Kapolri : Mantan Napi Teroris