MAKASSAR, BUKAMATA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar membeberkan, pasangan suami istri yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Katedral Makassar, belajar merakit bom dari internet.
Menurut Komjen Boy, mereka membuat online training di media sosial. Pelatihnya adalah orang yang ahli dan pernah mendapat pelatihan dari luar negeri.
"Ada informasi ini juga berkaitan dengan online training di media sosial yang dikembangkan oleh mereka. Jadi mereka mengembangkan tata cara pembuatan bahan peledak," ujar Komjen Boy Rafli Amar kepada wartawan di lokasi ledakan Jl Kajaolalido Makassar, Senin (29/3/2021).
"Ini sinergitasnya dengan semua pemangku kepentingan, bekerja sama tentunya TNI, dengan kepolisian, dengan BIN, dengan BSSN, semua lembaga negara termasuk Kominfo sudah menjadi agenda utama dalam mengantisipasi sebaran paham radikal intoleran di dunia maya. Itu yang harus terus dilaksanakan dengan juga pelibatan unsur masyarakat karena masyarakat menggunakan sarana cyber space, yang tentunya harus waspada dengan kondisi yang ada di dalam dunia maya," imbuhnya.
Informasi lebih lanjutnya kata Boy, akan disampaikan langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Sebelumnya, Kapolri mengatakan, identitas pelaku adalah LL. Dia teridentifikasi dari kepalanya yang ditemukan di atap sebuah bangunan. LL kata Kapolri, adalah jaringan JAD yang merupakan pelaku peledakan bom di gereja Jolo, Filipina. Jaringannya di Makassar sebagian sudah ditangkap pada Januari 2021 lalu.
TAG
BERITA TERKAIT
-
Selain di Polsek Astana Anyar, Ini 5 Bom Bunuh Diri di Kantor Polisi 10 Tahun Terakhir
-
Mantan Narapidana Teroris: Ada Rasa Kecewa yang Jadi Pemicu Bom Bunuh Diri
-
Pimpin Apel Pagi, Ini Penekanan Danyon Brimob Bone
-
Dewan Kecam Keras Aksi Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar
-
Polri Ungkap Identitas Pelaku Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Kapolri : Mantan Napi Teroris