Redaksi
Redaksi

Kamis, 04 Februari 2021 15:10

Kapten Afwan
Kapten Afwan

"Clear," Kata Terakhir Kapten Afwan ke ATC, Pesawat SJ-182 Utuh Saat Membentur Laut

Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih utuh saat membentur laut. Kapten Afwan sempat mengatakan "Clear" sebelum hilang kontak.

JAKARTA, BUKAMATA - Direktur Utama AirNav Indonesia, Pramintohadi Sukarno dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Rabu (3/2/2021), mengungkap detik-detik Sriwijaya Air SJ182 mulai dari take off hingga menghilang dari radar Air Traffic Control (ATC).

Senin, 9 Januari 2021. Pesawat dengan nomor registrasi PK-CLC itu masih di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Siang itu, pesawat tersebut, bersiap-siap terbang ke Pontianak.

Pada pukul 14.36 WIB, Sriwijaya Air SJ182 take off dari Runway 25. Lalu sempat mengontak ATC pada ketinggian 1.700 kaki. Pilot menghubungi Jakarta Approach di frekuensi 179 MHz. Dia diinstruksikan controller untuk naik ke ketinggian 29 ribu kaki mengikuti prosedur SID atau standar alur keberangkatan.

Pada pukul 14.38 WIB, pesawat melewati ketinggian 7.900 kaki. Lalu, SJ182 meminta arah 0.75 derajat kepada ATC, karena alasan cuaca. Ada awan commulusnimbus menggantung di langit Jakarta. Oleh ATC diizinkan. Kemudian diinstruksikan naik ke ketinggian 11 ribu kaki.

Saat itu, pilot Kapten Afwan menjawab "clear". Petugas ATC kemudian meminta kembali naik ke ketinggian 11 ribu kaki. Pasalnya, pada ketinggian yang sama, ada pesawat AirAsia dalam posisi yang sama, yang juga akan terbang juga ke Pontianak.

Pada pukul 14.39 WIB. SJ-182 pada posisi 10.600 kaki. Lalu diinstruksikan oleh ATC naik ke ketinggian 13 ribu kaki dan direspons baik oleh SJ-182.

"Selama proses dari jam 14.36 sampai 14.39, tidak ada laporan pesawat dalam kondisi tidak normal. Jadi ini semua berlangsung dengan normal," beber Pramintohadi.

Tiba-tiba, pada pukul 14.40 WIB, SJ-182 terpantau di layar radar ATC berbelok ke kiri, ke arah barat laut. Padahal seharusnya ke arah kanan di posisi 0,75 derajat.

ATC melakukan 11 kali panggilan ke SJ-182, namun tak ada jawaban. Malah, SJ-182 hilang dari layar radar ATC.

Beberapa penerbangan lain seperti Garuda, mencoba membantu ATC melakukan komunikasi ke SJ-182. Namun tetap tidak ada respons. Hingga kemudian, puing-puing pesawat ditemukan di perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 lalu, tidak pecah di udara. Saat jatuh ke air, pesawat itu dalam kondisi utuh.

"Ada yang mengatakan pesawat pecah di atas udara. Itu tidak benar. Pesawat secara utuh sampai di air, tidak ada pecah di udara," kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Soerjanto menjelaskan, berdasarkan data tim SAR gabungan, puing pesawat tersebar di wilayah dengan lebar 80 meter dan panjang 110 meter pada kedalaman laut 15 sampai 23 meter.

Beberapa bagian pesawat sudah ditemukan seperti ruang kemudi, bagian roda pendarat utama, bagian sayap, bagian dari mesin, bagian dari kabin penumpang, serta bagian ekor.

Bagian-bagian tersebut menurut Soerjanto telah mewakili seluruh bagian pesawat dari depan hingga ke belakang.

Ia juga menyebut, mesin di turbin masih dalam keadaan hidup. Kondisinya rontok ada indikasi masih berputar ketika membentur air.

Berdasarkan temuan itu, ia mengatakan tidak ada bukti pesawat Sriwijaya Air SJ 182 mengalami ledakan di udara sebelum membentur air.

"Luas sebaran dan ditemukannya bagian pesawat dari depan sampai belakang, konsisten dengan bukti bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air," tutur Soerjanto.

KNKT telah mengunduh data kotak hitam “Flight Data Recorder” pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sejak ditemukan pada 13 Januari.

Berdasarkan data FDR itu, terdapat 370 parameter dan semua dalam kondisi baik. Sebelum pengunduhan data, perlu ada perlakuan (treatment) khusus yang harus dilakukan. KNKT menyatakan sistem pesawat Sriwijaya Air SJ 182 masih berfungsi dan mampu mengirim data sebelum jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Senin (9/1/2021) pukul 14.40 WIB.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Tragedi Sriwijaya Air