Redaksi : Jumat, 22 Januari 2021 10:11
Kondisi tenda pengungsi di Labuang Rano, Tappalang Timur, Mamuju, Sulbar. (Sumber Foto: Detik)

MAMUJU, BUKAMATA - Mereka bertujuh, mengungsi ke Desa Labuang Rano, Kecamatan Tappalang Timur, Mamuju. Rumah mereka hancur diguncang gempa berkekuatan magnitudo 6,2.

Bertujuh, mereka berteduh di bawah tenda. Luasnya mungkin hanya sekira 3 x 1 meter. Satu terpal dijadikan atap. Lalu di belakang dipasang kain untuk menghalau dingin. Sisi lainnya terbuka. Alasnya dari kayu dan dedaunan. Jika hujan, mereka akan basah. Pasalnya, tendanya sudah bocor-bocor.

Sunawati bilang, mereka hanya berteduh di siang hari di situ. Pada malam hari, mereka mencari tenda untuk menumpang tidur. "Tapi tidak enak menumpang terus," ujarnya.

Pada siang hari, mereka terus menanti bantuan tenda. Supaya keluarganya mendapat tempat berlindung yang layak. Namun, penantian itu tampaknya sia-sia. Sebab, sebelum sampai ke tempat mereka, bantuan itu sudah diadang di jalan poros, lalu dijarah.

Mereka kerap ke desa tetangga. Mencari bantuan. Namun, tak ada yang memberi.

Sunawati bilang, dia dan keluarganya sudah satu minggu di Labuang Rano. Namun, tak ada secuil pun bantuan yang datang kepada mereka.

Salah seorang anggota Tagana Sulawesi Barat, Ahmad Taufik bilang, kurangnya bantuan yang menjangkau pengungsi gempa di Desa Labuang Rano akibat maraknya aksi penjarahan mobil pembawa bantuan di jalan poros.

Di Labuang Rano kata Taufik, ada sekira 500 kepala keluarga yang mengungsi. Mereka tersebar di 10 titik. Mereka sangat membutuhkan tenda, bahan makanan pokok, tenda, serta perlengkapan bayi.