Ririn
Ririn

Jumat, 15 Januari 2021 15:05

Int
Int

Setelah Huawei, Giliran Xiaomi yang Hadapi Pembatasan Bisnis di AS

Setiap bisnis atau perusahaan yang masuk ke daftar itu harus tunduk pada pembatasan yang keras, termasuk larangan investasi Amerika.

BUKAMATA - Pemerintahan Trump terus meluncurkan perang terhadap bisnis China. Pada hari Kamis (14/01/2021) Departemen Pertahanan AS menambahkan sembilan perusahaan China ke dalam daftar perusahaan yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer China.

Setiap bisnis atau perusahaan yang masuk ke daftar itu harus tunduk pada pembatasan yang keras, termasuk larangan investasi Amerika.

Salah satu perusahaan yang terkena dampak adalah pembuat ponsel Xiaomi. Penambahan tersebut merupakan berita mengkhawatirkan bagi Xiaomi, yang baru-baru ini melampaui Apple sebagai pembuat smartphone terbesar ketiga di dunia, menurut firma intelijen pasar IDC.

Saham perusahaan jatuh 10% selama perdagangan pagi di Hong Kong pada hari Jumat.

Departemen Pertahanan AS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya "bertekad untuk menyoroti dan melawan" hubungan antara militer China dan perusahaan yang "tampaknya merupakan entitas sipil" tetapi mendukung militer dengan teknologi dan keahlian canggih.

Kementerian Luar Negeri China belum berkomentar mengenai pembatasan tersebut. Namun Beijing sebelumnya telah mengkritik Washington atas tindakannya, dan mengatakan akan mengambil "tindakan yang diperlukan" untuk melindungi kepentingan perusahaan China.

Perusahaan lain yang masuk ke daftar Communist Chinese military companies termasuk Commercial Aircraft Corporation of China (Comac), China National Aviation Holding, dan Grand China Air.

Sebelumnya, Pentagon telah mendaftar 35 perusahaan China ke daftar tersebut, termasuk pembuat chip SMIC dan perusahaan teknologi Huawei.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Xiaomi