Redaksi
Redaksi

Selasa, 05 Januari 2021 15:16

Adi Peccu (ketiga kiri), saat dibekuk polisi.
Adi Peccu (ketiga kiri), saat dibekuk polisi.

"Pak, Ada Teriakika di Sana," Lapor Istri, Pak Kades Geram Lalu Ajak Kerabatnya Aniaya 2 Warga

Seorang oknum kepala desa di Bulukumba, mengajak kerabatnya menganiaya dua warganya.

BULUKUMBA, BUKAMATA - Selasa, 5 Januari 2020. Pukul 05.30 Wita. AP diciduk polisi di jalan poros Sinjai-Bulukumba. AP menyusul seorang oknum kepala desa di Bulukumba berinisial H, serta seorang anggotanya berinisial N yang terlebih dibekuk polisi.

Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Sulsel Kompol Suprianto, Selasa (5/1/2020) mengungkapkan, penangkapan itu terkait penganiayaan yang dilakukan ketiga pelaku terhadap dua warga, Arifuddin dan Suardi. Mereka sudah tersangka dan dijerat Pasal 170 KUHP.

Peristiwanya awal Desember 2020 lalu di Desa Ballampesoang, Kecamatan Bulukumpa, Bulukumba. Saat itu, istri kepala desa H lewat di depan kios milik korban Arifuddin. Kemudian, dia merasa diteriaki orang di depan kios.

"Pak, ada teriakika di sana," sang istri melapor ke suaminya saat tiba di rumah. Kepala desa itu pun tersinggung. Dia lalu mengerahkan massa hingga 20 orang, untuk mencari pelaku yang meneriaki istrinya.

Awalnya cuma satu orang yang disuruh cek ke TKP. Belakangan menyusul kepala desa bersama 18 orang lainnya.

"Siapa teriaki istri saya di sini?" tanya H setiba di lokasi. Namun tak ada yang mengaku. Situasi mulai memanas. Korban sekaligus pemilik kios, Arifuddin, juga Suardi, mencoba menenangkan situasi.

Bukannya tenang. Korban Arifuddin justru dipukul oleh kepala desa H, lalu disusul bogem mentah dari pelaku AP. Pelaku lainnya, N, lalu menebaskan parangnya mengenai pundak Suardi.

Menurut Suprianto, dari 20 orang, hanya 5 yang diproses karena melakukan pemukulan. Tiga orang telah ditangkap. Sisanya, dua orang masih buron.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Penganiayaan #Bulukumba