BUKAMATA - Duka meliputi sebuah acara pernikahan di Yaman, ketika sebuah rudal tiba-tiba menghantam aula pernikahan. Lima wanita tewas akibat serangan tersebut, dan tujuh lainnya terluka.
Insiden itu terjadi di kota Hodeidah Yaman pada Hari Tahun Baru. Pemerintah dan gerakan Houthi saling menyalahkan atas ledakan tersebut.
Jenderal Sadek Douid, perwakilan pemerintah dalam komisi gabungan yang disponsori PBB yang mengawasi gencatan senjata, mengutuk ledakan tersebut. Dia menyebutnya sebagai "kejahatan menjijikkan yang dilakukan oleh Houthi terhadap warga sipil".
Sementara itu, Gubernur Hodeidah yang ditunjuk Houthi, Mohammed Ayache, mengatakan di televisi Al-Masirah bahwa "kekuatan agresi tidak pernah ragu untuk menyalahkan orang lain atas kejahatan mereka".
Menurut laporan Middle East Eye, aula pernikahan berada di dekat bandara Hodeidah, garis depan antara pihak yang bertikai, di tepi kota yang dikuasai pemberontak Houthi.
Ledakan terjadi hanya dua hari setelah setidaknya 26 orang tewas dalam ledakan yang mengguncang bandara Aden ketika anggota pemerintah yang baru terbentuk turun dari pesawat dari Arab Saudi.
Pada tahun 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan penyelidikan setelah lebih dari 130 orang tewas dalam acara pernikahan, yang diduga dilalukan oleh serangan udara koalisi Saudi.
Pada tahun 2018, setidaknya 20 orang tewas ketika sebuah acara pernikahan dilanda serangan lain, yang juga diyakini dilakukan koalisi pimpinan Saudi.
TAG
BERITA TERKAIT
-
AS Bombardir Yaman, Serang Bandara hingga Pelabuhan
-
Houthi Serang Kapal Dagang Yunani, Tewaskan Tiga Awak Kapal
-
Strategi Kemenlu Selamatkan WNI di Tengah Serangan AS-Inggris ke Yaman
-
2,3 Juta Anak di Yaman Menderita Malnutrisi Akut Tahun Ini
-
Pemerintahan Biden Akan Hapus Houthi dari Daftar Teroris Global