Redaksi : Senin, 30 November 2020 14:16
BG di dekat peti jenazah ayah dan suaminya.

SIGI, BUKAMATA - Pagi itu, usai menyaksikan ayahnya Yasa, dan suaminya, Pinus, dibantai kelompok yang diduga Ali Kalora Cs pada Jumat, 27 November 2020, BG langsung menggendong anaknya, juga menarik adiknya yang masih kecil, berlari masuk ke dalam hutan Palolo, Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng.

Saat itu, sekira pukul 08.00 Wita, BG juga sedang bersama ibunya, Ney. Namun saat hendak melarikan diri, dia melihat sang ibu justru berlari ke arah para pembunuh. Mendatangi jasad suaminya, Yasa, yang sudah tak berbentuk.

BG sempat mencegah dan memanggil nama ibunya. Namun, tangan sang ibu sudah keburu ditarik kelompok yang terkenal bengis itu.

Sambil terus membayangkan nasib ibunya, BG terus berlari membawa anak dan adik-adiknya. Dia lalu bertemu dengan beberapa petani yang hendak ke kebunnya. BG memperingatkan agar tidak ke desanya. Pasalnya, ada kelompok pembunuh bersenjatakan parang dan senjata api. Akhirnya, para petani itu mengikuti BG.

BG terus berjalan menyusuri sungai. Hingga berujung di air terjun. Namun, BG khawatir ditemukan. Akhirnya, BG nekat membawa anak dan adik-adiknya turun ke jurang. Satu demi satu dia bantu turun.

Mereka terus berjalan. Khawatir tersusul kelompok pembunuh. Sekira tiga jam berjalan, akhirnya mereka menemukan pematang sawah. Mereka terus berjalan, hingga sekira pukul 12.00 Wita, mereka selamat sampai ke sebuah perkampungan.

BG lalu mendapat kabar, ibunya selamat. Sempat ditahan kelompok Ali Kalora Cs. Namun tak dibunuh. Hanya pakaianya diolesi darah.