Menag Salurkan Bantuan untuk Madrasah, Guru, dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua
01 Februari 2026 20:42
Ali Kalora Cs diduga di balik pembantaian satu keluarga di Sigi, Sulawesi Tengah. Itu berdasarkan keterangan warga setelah diperlihatkan foto 11 DPO MIT.
SIGI, BUKAMATA - Jumat, 27 November 2020. Tadinya, Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sangat damai.
Pemukiman transmigrasi yang dihuni 50 kepala keluarga dari berbagai suku itu, tak pernah menyangka, kalau Jumat itu adalah hari nahas. Terutama keluarga Yasa, istrinya, anaknya, juga menantunya.
Sekitar pukul 09.00 Wita, muncul sekelompok orang. Menenteng senjata tajam. Lalu, mereka memasuki sebuah rumah. Kebetulan milik Yasa. Kelompok itu membantai penghuninya dengan parang.
Ada dua orang sempat lari keluar rumah. Namun tak jauh. Mereka langsung ditebas. Disaksikan warga setempat yang kemudian berlarian masuk ke dalam hutan Palolo.
Sisanya, dua anggota keluarga dibakar di dalam rumah. Asap membumbung tinggi. Ada enam rumah yang disulut api, juga beberapa kendaraan bermotor, sebelum kelompok bengis itu kembali masuk hutan. Ada yang sambil memanggul beras 40 Kg.
Sekretaris Desa Lembangtongoa, Rifai, membenarkan. Menurutnya, warganya ketakutan dan berlarian masuk ke dalam hutan demi menyelamatkan nyawanya.
Polisi lantas ke lokasi, menanyai warga yang menyaksikan. Sambil membawa 11 foto DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Ternyata ada tiga yang diidentifikasi warga. Termasuk sang pemimpin, Ali Kalora.
Itu diungkap Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Abdul Rachman Baso. Karenanya, mereka meyakini kalau pelaku adalah Ali Kalora Cs. Saat ini, Satgas Tinombala melakukan pengejaran.
Irjen Abdul Rachman Baso juga meluruskan, tak ada gereja yang dibakar. Hanya ada rumah, yang selama ini digunakan untuk pelayanan umat. Namun, itu bukan gereja.
"Saya luruskan tidak ada gereja yang dibakar. Bukan gereja. Hanya ada satu rumah yang kadang dipakai untuk melayani umat," ujar Irjen Abdul Rachman.
Kapolda meyakini, motif pembantaian itu adalah dendam. Bukan kepada keluarga Yasa. Namun, dendam setelah dua anggotanya terbunuh, juga beberapa ditangkap dalam satu bulan ini.
Terkait pembantaian terhadap keluarga korban, Kapolda mengatakan, kelompok kriminal itu hanya memilih korbannya secara acak. Itu tujuannya untuk menebarkan teror.
Ali Kalora melanjutkan aksi teror pendahulunya, mendiang Santoso alias Abu Wardah yang terbunuh 2016 lalu dalam penggerebekan di Gunung Biru. Mereka kerap melakukan pembunuhan terhadap petani di Poso dan sekitarnya. Ali Kalora didaulat sebagai pimpinan MIT, setelah Basri alias Bagong tertangkap. Saat itu, Ali Kalora lah yang dianggap paling senior.
01 Februari 2026 20:42
01 Februari 2026 17:46
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33