Aswad Syam
Aswad Syam

Sabtu, 17 Oktober 2020 10:19

Habib Rizieq Shihab
Habib Rizieq Shihab

Habib Rizieq Akan Pulang Pimpin Tsaurah, PKB: Hati-hati Pakai Kata Itu

Habib Rizieq Shihab kembali bikin geger. Kepulangannya ke tanah air untuk memimpin tsaurah dianggap ancaman kudeta oleh pihak pemerintah.

JAKARTA, BUKAMATA - Selasa, 13 Oktober 2020 lalu, Ketum FPI KH Ahmad Shabri Lubis di sela-sela aksi demonstrasi menolak omnibus law UU Cipta Kerja menyebutkan, Habib Rizieq akan pulang memimpin tsaurah. Dia mengartikan kata tsaurah itu sebagai revolusi.

"Imam besar Habib Rizieq Syihab akan segera pulang ke Indonesia untuk memimpin revolusi," kata Shabri dari atas mobil komandonya.

Kata tsaurah ini pun disorot. Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mengatakan, tsaurah bisa berarti kudeta atau revolusi. Abdul Kadir memastikan, siapapun yang berupaya melakukan kudeta akan punya konsekuensi hukum karena perbuatannya melawan hukum.

"Kalau saya kalau niatnya untuk kudeta atau melawan pemerintahan ya dia akan berhadapan dengan TNI Polisi dan rakyat. Jadi menurut saya, itu akan berhadapan dengan negara Indonesia," tegas Abdul.

Dia juga mengungkap jika maksud 'tsaurah' bukan kudeta dan revolusi, maka Habib Rizieq harus menjelaskan itu kepada masyarakat. Menurutnya ini perlu dilakukan agar tidak terjadi salah paham.

"Kalau memang tidak ada keinginan kudeta nggak ada masalah, perlu diklarifikasi oleh habib bahwa itu tidak benar, agar publik Indonesia tidak salah paham," ujarnya.

Hal senada diungkap Anggota Komisi I DPR RI fraksi PKB, Abdul Kadir Karding. Karding memastikan, Indonesia tidak mengenal sistem penjatuhan pemerintahan di luar konstitusi.

"Kita tidak mengenal sistem penjatuhan pemerintahan di luar batas batas konstitusi apalagi kalau itu dalam bentuk kudeta," ujarnya.

Untuk diketahui diksi 'tsaurah' dalam rilis yang dikeluarkan FPI, menurut Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel bisa berarti kudeta atau revolusi. Dia pun menyayangkan penggunaan diksi tersebut.

"Kami menyayangkan dokumen berbahasa Arab yang dibaca di demo kemarin terutama diksi 'tsaurah' yang merupakan terjemahan dari 'revolusi' sangat tabu di Arab Saudi. 'Tsaurah' bisa bermakna 'inqilab' (kudeta), faudha (chaos, kekacauan), intifadhah (pemberontakan), taqatul (peperangan, saling bunuh), idhtirab (gangguan keamanan) dan tamarrud (pemberontakan)," kata Agus.

Menurutnya, itu sangat sensitif jika dibaca oleh publik Arab Saudi. Dan Agus yakin, Saudi dan umat Islam tidak akan rela kota suci Mekah dipakai untuk meneriakkan 'tsaurah' terhadap negara yang syar'iyyah (konstitusional) Republik Indonesia.

Sementara itu, Front Pembela Islam (FPI) menepis pernyataan Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. FPI menegaskan, tidak ada makna kudeta dalam siaran persnya.

"Dalam terjemahan bahasa Indonesia yang kita keluarkan bersamaan, 'tsaurah' bermakna 'revolusi', dikuatkan juga oleh kita bahwa yang dimaksud revolusi adalah revolusi akhlak," ujar Ketua DPP FPI, Slamet Maarif, Jumat (16/10/2020) kemarin.

Diksi tsaurah yang digunakan FPI itu termuat dalam siaran pers dalam tiga bahasa. Siaran pers itu diberi judul 'Pengumuman dari Kota Suci Makkah tentang Rencana Kepulangan IB-HRS'.

Diksi tsaurah itu ada di halaman kedua siaran pers yang menggunakan bahasa Arab. FPI mengartikan tsaurah itu revolusi.

#Rizieq Shihab