Redaksi : Sabtu, 26 September 2020 11:22
Korban Rani Anggraini. Pembunuhnya terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas.

LANGKAT, BUKAMATA - Kamis, 24 September 2020. Pagi itu, sekitar pukul 08.00 WIB. Dedi Syahputra (41), karyawan perkebunan kelapa sawit PT LNK Afdeling I Desa Padang Brahrang, Langkat, Sumatera Utara, hendak berangkat kerja dengan mengendarai sepeda motor.

Di pertengahan jalan, tiba-tiba sepeda motornya mogok tanpa sebab. Padahal, selama ini mesin motornya terawat dan tidak bermasalah. Saat sedang mengutak-atik sepeda motornya, dia melihat ceceran darah. Juga ada sandal jepit dan ponsel.

Dedy merasa ada yang janggal di lokasi itu. Dia lalu mencoba menyusuri jejak-jejak dan ceceran darah di sekitar lokasi yang menempel di rerumputan perkebunan. Hingga dia berhenti di satu tumpukan pelepah daun sawit kering.

Dari balik tumpukan daun sawit kering itu, dia melihat ada tubuh manusia. Namun Dedy yang penasaran, mengangkat tumpukan pelepah kelapa sawit kering itu. Ternyata benar. Dia menemukan jenazah perempuan bersimbah darah.

Jenazah wanita itu mengenakan celana jins biru dan kaus merah. Korban berperawakan berpotongan rambut sebahu, tinggi badan sekitar 150 sentimeter.

Dia lalu mengabarkan ke atasannya Darma Sembiring (50). Selanjutnya mereka mendatangi lokasi dan menghubungi Bhabinkantibmas Aiptu Ardiansyah. Polisi datang langsung memasang police line.

Warga juga sudah berkerumun. Mereka bilang kalau korban adalah Rani Anggraini (23), bekerja sebagai sekretaris di perusahaan peternakan ayam telur di Desa Tanjung Merahe.

Tim inafis Polres Binjai, menemukan pada tubuh korban luka koyak 5 cm di bagian kening, luka 8 cm di telinga kanan dan batok kepala kondisinya remuk diduga hantaman benda tumpul.

Tak lama polisi melakukan penyelidikan. Hingga berhasil mengendus jejak pelaku bernama Gabriel Zefaya Ginting (20).

Kasat Reskrim Polres Binjai, AKP Yayang Rizki Pratama, Jumat (25/9/2020) kemarin mengatakan, mereka menangkap pelaku setelah enam jam. Itu berkat informasi masyarakat. Dia pun memerintahkan Kanit Pidum Iptu Hotdiatur Purba dan anggota untuk melakukan pengejaran.

Saat penyelidikan, pelaku berkeliaran menggunakan sepeda motor korban yang dibawa kabur. Ketika hendak ditangkap, tersangka melawan. Sudah diperingati, tapi tidak dihiraukan. Sehingga, ditindak tegas dengan tembakan mengenai kaki kiri dan kanannya.

Gabriel Ginting kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham Kota Binjai untuk diberi perawatan medis.

Kepada polisi, pelaku menceritakan kronologinya. Rabu sore, 23 September 2020, dia melihat korban dari jauh. Sedang naik sepeda motor. Dia lantas berbalik arah. Pura-pura hendak menumpang.

"Saya minta tolong numpang sampai Simpang Pasar 8," ujar Gabriel ke korban Rani.

"Saya cuma sampai Afdeling," jawab Rani ditirukan pelaku Gabriel.

Gabriel mengatakan tidak apa-apa, nanti dia sambung jalan kaki. Dia pun naik ke boncengan Rani. Saat sepeda motor melaju, suasana sepi. Tiba-tiba Gabriel memiting leher korban sekuat tenaga sampai lemas-selemasnya.

Pria yang mengaku pengantin baru itu juga meninju kepala korban dengan tangan kiri, hingga korban nyaris tak sadarkan diri. Usai itu, korban terbaring di pinggir jalan. Kembali, Gabriel menghantam kepala korban tiga kali dengan batu.

"Abis dari situ, saya seret ke dalam ladang. Pas di situ saya hantam lagi kepalanya pakai batu lebih besar ada tiga kali. Abis itu saya punya obeng di kantong celana, saya cucuk lehernya empat kali. Obeng memang saya bawa. Emang sudah niat," beber pelaku yang mengaku baru pertama kali melakukan pembunuhan.

Setelah membawa kabur sepeda motor korban, pelaku pergi ke daerah Lincun Binjai. Di lokasi inilah, pelaku menggadaikan motor Honda Beat korban sebesar Rp1,5 juta.

"Aku gak ada uang buat kebutuhan sehari-hari. Sudah niat mau curi motor. Habis kejadian aku bawa ke Lincun gadai motor Rp1,5 juta," terangnya.

Suami korban Nurwahyuda (27), syok mengetahui istrinya sudah tidak bernyawa. Dia berharap, pelaku dikenakan dengan pasal yang seberat-beratnya dengan hukuman mati karena sudah merencanakan pembunuhan.

Sejak malam hari, pada Rabu itu, Nurwahyuda sudah merasa cemas. Pasalnya, istrinya tidak pulang-pulang ke rumah. Padahal seperti biasanya, sekitar pukul 17.00 WIB, istri selalu pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor merek Honda Beat BK 4525 RAQ.

"Istri saya memang selalu melintasi jalan perkebunan Afdeling II," ujarnya.

Nurwahyuda sempat menanyakan keberadaan istrinya ke peternakan milik Aliong, tempat korban bekerja. Saat itu, rekan-rekan korban memberi tahu bahwa yang bersangkutan sudah pulang seperti biasanya.

"Sedih kali rasanya, saya gak menyangka, kok bisa tega pelaku melakukan tindakan itu kepada istri saya. Saya berharap, pelaku diberikan hukuman dengan pasal yang seberat-beratnya dengan hukuman mati, karena sudah merencanakan untuk membunuh istri saya," tegas Nurwahyuda.