Redaksi
Redaksi

Senin, 31 Agustus 2020 16:38

Andi Mattalatta
Andi Mattalatta

Kisah Andi Mattalatta Tegakkan Siri', Berkelahi dengan Bocah Belanda

Andi Mattalatta dikenal sebagai pria Bugis yang sangat menjunjung tinggi siri'.

MAKASSAR, BUKAMATA - Senin, 31 Agustus 2020. Sebuah tenda berdiri di Anjungan Pantai Losari. Sejumlah tokoh duduk di bawah tenda. Ada mantan Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, juga pendahulunya, Ilham Arief Sirajuddin.

Di antara tokoh-tokoh itu, tampak pula anak cucu Andi Mattalatta. Hari itu, peresmian patung Andi Mattalatta, salah seorang pahlawan tokoh asal Sulsel. Patungnya dipajang di Anjungan Pantai Losari, di antara beberapa patung tokoh Sulsel lainnya.

Siapa Andi Mattalatta? Dalam buku berjudul "Meniti Siri dan Harga Diri" disebutkan, Andi Mattalatta adalah seorang pria berdarah Bugis yang sangat menjunjung tinggi siri' atau harga diri.

Sejak kecil hingga wafat, beliau tak pernah lepas dari kesadaran dan semangat dalam meniti lakon siri’ dan harga diri dengan sebenar-benarnya.

Andi Mattalatta terlahir sebagai anak Raja Bugis pada tanggal 1 September 1920 di Jampue-Barru, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Pawiseang Daeng Ngerang Arung Mangempang Petta Pandegara, Raja Barru ke-17. Dan Ibunya bernama Majjajareng Daeng Kanang Petta Indo Datu Salonro, putri dari Padduppa Datu Salonro Arung Ujung, Soppeng.

Setelah tamat dari Gouvernement Inlandsche School, pada tahun 1929, Andi Mattalatta disekolahkan ibunya di Gouvernement Openbare Schakel School Makassar, dan indekos di rumah Tuan Franz bersama beberapa putra raja, salah satunya adalah Andi Abdullah Bau Massepe.

Suatu saat, Andi Abdullah menguji Andi Mattalatta berkelahi dengan anak Belanda bernama Paul Hoffman, tetangga mereka yang badannya jauh lebih besar. Andi Abdullah bilang, “Jangan menjadi pengecut. Kamu keturunan pahlawan. Walaupun lawan sebesar raksasa, kamu harus berani menantangnya. Kalau dia tidak mau berkelahi, tarik saja ‘kemaluannya’ supaya dia marah!”

Walhasil, Andi Mattalatta dihajar Paul Hoffman sampai babak belur. Harga dirinya terlucuti. Tapi, Andi Mattalatta tetap sabar dan menerima kekalahan dengan fair. Dia lalu membalasnya dengan tekun dan berlatih keras ilmu bela diri. Dan, bukan hanya pencak silat, kuntao, jiujitsu, hingga tinju pun dikuasainya.

Andi Mattalatta juara tinju di kelas Bantam. Sering menang KO menumbangkan para juara di kelas Bulu dan kelas Ringan, termasuk menang KO melawan Kid Usman petinju Batavia dari kelas ringan, pada tahun 1938.

Herman, begitulah Andi Mattalatta dipanggil oleh orang Belanda. Sewaktu baru meraih peringkat empat besar dalam lomba renang 100 meter gaya dada pada Agustus 1932, seorang bocah Eropa bernama John Rouwendal menghampiri sembari meledek. “Herman, bagaimana kamu bermimpi mau mengalahkan saya jika kamu cuma seorang katai?”

Katai adalah cibiran untuk orang bertubuh pendek. Harga diri Andi Mattalatta kembali terusik. Tapi dia memilih menahan diri dan berusaha merebut kembali harga diri itu dengan cara yang berbeda. Ia memacu diri dan tekun berlatih renang dengan disiplin yang ketat. Jika John berlatih 2 jam sehari, maka dia berlatih selama empat jam sehari.

Setahun kemudian, bertemulah Andi Mattalatta dan John Rouwendal di arena lomba renang Surabaya. Sebelum bertanding, John masih sempat meledek ulang Andi Mattalatta dengan sebutan katai. Namun, ia tidak menggubrisnya dan tetap fokus. Di gaya bebas 100 meter, Andi Mattalatta mengambil teknik bernapas setiap empat kali kayuhan tangan. Berbeda dengan peserta lain, yang mengambil napas setiap 2 kali kayuhan. Ia melaju deras ke garis finish dan menjuarai lomba dalam waktu 61 detik. John di urutan kedua dengan waktu 63 detik.

Begitulah cara Andi Mattalatta menegakkan dan membuktikan siri’ dan harga diri. Bukan dengan badik disertai amarah membabi buta, melainkan dengan mengukir prestasi. Baginya siri’ itu need for achievement. Dan terbukti, serangkaian prestasi di berbagai cabang olahraga diraihnya. Mulai dari lari, lompat indah, senam, terbang layang, balap sepeda, bulutangkis, sepak bola, sepatu roda, layang gantung, dan lainnya.

Beliau juga mahir berkuda dan menembak. Memainkan cambuk dan laso. Jago ski air, jumping boat, dan jet ski. Nama Andi Mattalatta terukir harum sebagai Bapak Pencetus lahirnya olahraga ski air di Indonesia. Bahkan, nama dan jejaknya tercatat sebagai orang Asia pertama dan satu-satunya yang masuk “Hall of Fame” dari International Waterski & Wakeboard Federation pada tahun 2013.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.