Redaksi
Redaksi

Minggu, 16 Agustus 2020 07:26

Mobil Avanza silver ringsek terjatuh di sungai berbatu di Sinjai.
Mobil Avanza silver ringsek terjatuh di sungai berbatu di Sinjai.

Ini Sejumlah Firasat Pihak Mempelai Pria Sebelum Kecelakaan di Sinjai

Ada beberapa firasat buruk, sebelum rombongan pengantin pria bergerak dari Jeneponto ke Bone. Firasat itu terbukti di Sinjai. Satu mobil rombongan kecelakaan.

JENEPONTO, BUKAMATA - Kecelakaan iringan pengantin dari Jeneponto menuju Bone, terjadi Dusun Jatie, Desa Samaturue, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, Sabtu, 15 Agustus 2020. Sampara Subu (55) tewas bersama lima kerabatnya. Dini hari itu, mereka mengantar putranya, Ridwan Syam untuk akad nikah di Bone.

Sebelum berangkat, ada beberapa kejadian yang menyiratkan akan adanya bahaya. Dihimpun dari warga dan kerabat korban.

Malam itu, Jumat, 14 Agustus 2020, di Desa Baraya, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, berlangsung acara akkorongtigi (adat Makassar pada malam pesta pernikahan). Sebelum acara, wadah tempat daun pacar dan bahan akkorongtigi lainnya terjatuh.

Tempat akkorongtigi (istimewa)

Sampara Subu menangkap firasat itu. Dia mengusulkan agar rombongan pengantin berangkat usai salat subuh ke Bone, tempat mempelai perempuan. Namun karena banyak yang hendak berangkat malam itu, Sampara pun ikut.

Usai akkorongtigi pukul 22.00 Wita, rombongan bersiap. Tempat uang panaik dan seserahan lainnya dinaikkan ke atas mobil. Namun di tangga, seperangkat alat salat dan Al-Qur'an terjatuh.

Sampara (orang tua mempelai laki-laki), Baddiheng Daeng Lalang (Ketua Lembaga adat Desa Baraya), Ali Sadikin (Imam Dusun Baraya 2), H. Nafi , Hj. Indahsari, Jamilah, dan Muh Tahir naik di mobil Avanza Silver DD 1452 GJ, yang dikemudikan Kahimuddin Daeng Tompo.

Iring-iringan mobil itu pun berangkat membelah malam. Di tengah perjalanan, barulah rombongan tersadar. Pengantin pria, Ridwan Syam tak ada di tengah-tengah rombongan. Sampara lalu menelepon seorang kerabat yang tidak berangkat, Rabanai.

Kepada Rabanai, Sampara meminta untuk mencari mempelai pria di kamarnya. Benar saja, mempelai pria, tertidur di dalam kamar akibat kelelahan. Terpaksa dia dipesankan mobil sewa.

Rombongan pengantin yang lain terus bergerak. Pukul 02.00 Wita, iring-iringan sampai di Dusun Jatie, Desa Samaturue, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai. Di sebuah turunan berliku, Kahimuddin yang membawa Avanza silver itu tak kuasa mengendalikan laju mobilnya. Mobil pun terus terjungkal masuk sungai yang penuh bebatuan.

Enam penumpang tewas. Yaitu, Sampara (orang tua mempelai laki-laki), Baddiheng Daeng Lalang (Ketua Lembaga adat Desa Baraya), Ali Sadikin (Imam Dusun Baraya 2), H. Nafi , Hj. Indahsari dan Jamilah. Dua lainnya luka-luka. Muh Tahir kritis, dan sopir Kahimuddin Daeng Tompo luka ringan.

Kanit Lakalantas Polres Sinjai, Aipda Rajamuddin mengatakan, korban tidak meninggal bersamaan. Ada penumpang yang sempat dilarikan ke puskesmas setempat.

"Jadi 2 meninggal di tempat, 2 saat dalam perjalanan ke puskesmas, 2 lagi saat sudah dirawat di puskesmas. Enam penumpang itu 2 perempuan dan 4 laki-laki," katanya.

Meski ayah dan lima kerabatnya meninggal, akad nikah Ridwan Syam tetap berlangsung, di rumah orang tua mempelai perempuan di Jalan Sukawati, Kota Watampone, Bone, Sabtu (15/8/2020). Ridwan Syam mempersunting pujaan hatinya, Hj Rina, seorang pengusaha dari bumi Arupalakka itu.

Jalil, salah seorang kerabat mempelai wanita mengatakan, akad nikah digelar sekitar pukul 10.00 Wita. Sebelum ijab kabul, digelar acara penyerahan mahar dan uang panaik sebesar Rp100 juta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Lakalantas #Sinjai #jeneponto