Menag Salurkan Bantuan untuk Madrasah, Guru, dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua
01 Februari 2026 20:42
Menurut dosen FKM UI, rapid test sangat tidak akurat. Sebab, hasil rapid test tidak bisa menjadi acuan.
BUKAMATA - Pakar epidemiologi Pandu Riono menyebut rapid test yang marak dilakukan pemerintah daerah di tengah wabah virus Corona (COVID-19), sebaiknya dihentikan.
"Menurut saya, harus segera. Kalau perlu, besok Senin rapid test di seluruh Indonesia itu dihentikan," kata Pandu.
Menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), rapid test sangat tidak akurat. Menurutnya, hasil rapid test tidak bisa menjadi acuan.
"Adanya testing cepat antibodi, rapid test, ini sangat tidak akurat," imbuh Pandu dilansir Detikcom, Minggu (5/7/2020).
"Yang dites itu antibodi. Antibodi itu artinya respons tubuh terhadap adanya virus. Itu terbentuk seminggu atau beberapa hari setelah terinfeksi. Kalau tidak reaktif, bukan berarti tidak terinfeksi. Kalau reaktif, bukan berati bisa infeksius," tambahnya.
Dengan maraknya fenomena rapid test, terang Pandu, terjadilah komersialisasi. Salah satunya ketika rapid test menjadi syarat seseorang sebelum boleh menggunakan transportasi pesawat ataupun kereta api.
Padahal, menurutnya, rapid test belum dijamin akurasinya. "Itu useless sebenarnya," jelas Pandu.
"Karena kalau tidak, publik rugi, atau banyak uang negara yang seharusnya bisa meningkatkan kapasitas tim PCR, (malah) hanya untuk membeli (alat) rapid," tuturnya.
01 Februari 2026 20:42
01 Februari 2026 17:46
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33