JENEPONTO, BUKAMATA -- Sebuah bangunan semi permanen berbentuk kubus di Taipalampang, Lingkungan Sangingloe, Kelurahan Bontotanganga, Kecamatan Tamalatea, Jeneponto Sulawesi Selatan. Dinding belakang dan samping dari anyaman bambu. Bagian depan, seng-seng berkarat disusun menjadi dinding. Atapnya juga seng. Sebagian tampak masih baru.
Di rumah itulah, Sada (51) tinggal. Janda lima anak iti, ditinggal mati suaminya, Sanja, 10 tahun silam. Meninggalkan 5 orang anak. Dan semuanya sudah berkeluarga, merantau di luar daerah. Tinggallah Sada sendirian.
Anak pertamanya, Sanusi tinggal di Makassar, dua orang di Kalimantan, Herman, Midung dan Taring di Jayapura, Seha' tinggal di Kabupaten Pangkep. Ibu Sada yang sudah mulai pikun itu, punya lima orang anak, semuanya laki-laki.
Baca Juga :
Dia tinggal di rumah reyot yang beralas seadanya, berdinding anyaman bambu beratap seng bekas. Kurang lebih 8 tahun tinggal di sana seorang diri, ditemani bantal berselimut apa adanya. Pada bagian dinding bambu anyaman itu, sudah mulai ditumbuhi rumput liar.
Untuk bertahan hidup, dalam kesehariannya itu, hanya berharap dari ularan tangan tetangganya. Dan makan gaji dari jerih payahnya sendiri memetik bawang dari tetangga. Dia tak punya penghasilan tetap.
"Untuk bertahan hidup saya makan gaji dari tetangga dengan cara memetik bawang, dalam sehari dapat Rp5.000 hingga Rp15.000. Biasa juga ada yang kasih ka tetanggaku, sembako, mi, minuman berupa sirup dan uang," ujar Sada kepada Wartawan, Jumat (22/5/2020).
Rumah yang tak layak huni itu, dibangun di atas tanah milik Ancu, yang dipinjamkan ke Sada. Saat membangun, ia menceritakan lantainya dapat bantuan semen dari tetangganya bernama Ibu Lisda. Bukan dari pemerintah.
"Saya berharap dapat bantuan perbaikan rumah dari pemerintah. Termasuk bantuan sosial lainnya. Dia bilang, tanah itu milik Ancu yang terdapat bangunan rumah tak layak huni. "Anjo Buttayya Ancu pata, ku inrangji (Tanah itu milik Ancu, saya pinjamji)," sebutnya.
Ia menambahkan, selama hidupnya dia tak pernah melihat bantuan dari pemerintah berupa PKH, BLT dan lainnya. Terkecuali ia mengakui hanya pernah mendapat bantuan sembako dari pemerintah saat itu 5 liter berlangsung beberapa bulan.
"Pernahja dapat bantuan sembako dari pemerintah 5 liter selama beberapa bulan. Setelah itu sampai sekarang sudah tidak dapat lagi, baik itu BLT dan PKH serta bantuan lainnya," pungkas Sada yang mulai pikun itu.
Ambo tetangga Sada menyebutkan, bahwa sangat disayangkan tanah tersebut bukan miliknya. Namun dia tetap berharap rumah layak dihuni seperti dengan rumah lainnya.
"Bukan tanahnya, itu miliknya Ancu. Dia banguni. Namun berharap dapat dibedah atau diperbaiki," ujar Ambo diamini Kr Caddi dan lainnya.
Kepala Kecamatan Tamalatea, Haeruddin Limpo mengatakan, sudah mengunjungi penduduk warga miskin yang tinggal dirl rumah yang tak layak huni. Dia menyebutkan akan membicarakan ke pihak terkait untuk mendapatkan bantuan bedah rumah.
"Pengajuan untuk mendapatkan bantuan itu harus tanah bersertifikat di situmi pada persoalannya di sisi lain dia layak dapat bantuan, namun pemerintahan juga diikat oleh sebuah aturan. Namun meskipun demikian tetap kita upayakan pada program lain," lanjut Haeruddin
Pihaknya juga akan mengupayakan apakah bisa di program lain, di APBD dan bagaimana caranya. Luas rumah tersebut itu sekitar 4 x 5. Seharusnya kata dia, pemerintah setempat aktif melaporkan ke Pemerintah Kecamatan.
Lalu, disampaikan ke Dinas Sosial
seperti kemarin terdapat beberapa yang sudah dibantu baik bedah rumah dan lainnya.
"Sangat prihatin, di dalam berantakan sekali, di sana dia makan, tidur. Kondisinya memang sangat layak dan kasihan sekali dengan ekonominya. Ukuran rumahnya hanya sekitar 4x5 luasnya. InsaAllah akan dibedah rumahnya," ungkapnya.
Pantauan wartawan, rumah Sada berjarak kurang lebih 400 meter dari Jalan Poros Jeneponto - Bantaeng. Rumah tersebut tidak kelihatan dari luar karena terdapat bangunan rumah tinggi di depannya.