Redaksi : Selasa, 05 Mei 2020 14:55
FIB Unhas menyerahkan bantuan sembako ke mace-mace pemilik kantin di lingkup FIB Unhas.

MAKASSAR, BUKATA - Selasa, 5 Mei 2020. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, menggelar seminar nasional melalui aplikasi Zoom.

Temanya, pandangan kearifan lokal dan sejarah pandemi pada masa Hindia-Belanda.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan Dr. Andi Faisal, M.Hum., Dr. Andi Muh. Akhmar, M.Hum (Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan dan Sumber Daya Manusia) juga sebagai pemateri, dan Meta Sekar Pujiastuti, M.A. Ph.D., sebagai pemateri.

Acara seminar ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. drg. A. Arsunan Arsin, M. Kes.

Peserta seminar dengan metode aplikasi Zoom ini dihadiri oleh kalangan mahasiswa FIB, dosen FIB dan masyarakat umum. Materi pertama dipaparkan oleh Dr. Andi Muh. Akhmar, M.Hum tentang bagaimana pengalaman masyarakat Bugis-Makassar terhadap wabah yang pernah terjadi pada abad ke-16 dan 17. Pada masa itu, di kerajaan Gowa, penyakit cacar dan radang paru menewaskan kurang lebih 60.000 jiwa dalam jangka waktu 40 hari. Juga pernah kerajaan Bone menghadapi pandemi kolera bersamaan menghadapi gempuran Belanda pada abad ke-17, namun pandemi ini pula yang menghentikan gempuran Belanda pada Kerajaan Bone saat itu. Ada pula wabah yang paling menakutkan di Sulawesi Selatan adalah kusta.

"Namun yang terpenting kita lihat adalah apa yang dilakukan masyarakat saat itu. Ternyata yang dilakukan pun tidak jauh berbeda dengan yang sekarang ini, yakni melokalisir satu wilayah," ungkap Andi Akhmar.

Bahkan dalam lontaraq pabbura (sejarah obat-obatan di Bugis) kata Akhmar, pun ada tertulis bagaimana meramu minuman seperti jahe, gula dan garam, untuk menangkal kolera.

Akhmar juga membeber foklore atau cerita rakyat, tentang penyakit kulit/lepra/kusta yakni Arung Masala Ulie. Tentang seorang putri tunggal Kerajaan Luwu. Saat itu kata Akhmar mengutip folklore, sebuah kecemasan terjadi dalam masyarakat yang membuat mereka menghadap Raja. Mereka lalu memberi raja dua pilihan, memilih sebutir telur (putri tunggalnya) atau orang banyak (rakyatnya). Kalau Raja memilih sebutir telur, maka masyarakat yang akan meninggalkan negeri mencari negeri baru.

"Ternyata, Raja memilih rakyatnya dan tuan putri dilokasir atau diasingkan untuk mencegah penularan," ungkap Akhmar.

Pemateri kedua yakni Meta Sekar Pujiastuti, M.A., Ph.D. Dia memapar sebuah refleksi covid-19 melalui pandemi flu spanyol tahun 1918 masa Hindia-Belanda.

Refleksi ini kata dia, akan memberi kita pandangan tertentu tentang sebuah pandemi. Dalam ilmu sejarah lanjut dia, ada istilah bahwa sejarah itu akan berulang. Ada pola-pola yang sama saat sebuah pandemi terjadi.

"Saya menelusuri apakah ada sebuah ramalan atau prediksi tentang apa yang terjadi hari ini. Ternyata ada Michael Osterholm, Laurie Garret seorang jurnalis yang meramalkan akan ada kejadian besar di tahun 2020, Bill Gates juga mengatakan di tahun 2015 bahwa akan ada kejadian luar biasa di tahun 2020. Apakah pandemi covid-19 ini yang mereka maksud, entahlah tapi semoga prediksi atau ramalan-ramalan mereka cukup wabah ini saja," bebernya.

Prof Arsunan Arsin pun turut memberikan pandangan dalam seminar tersebut, sekaligus closing statement berakhirnya sesi seminar ini. “Dari aspek epidemilogi virus itu adalah kuman satu-satunya yang punya target tak akan berhenti bila belum mencapai target, begitu juga dengan Covid-19 ini. Epidemiologi itu memang ilmu tentang wabah, kami pun mempelajari berbagai sejarah tentang hadirnya wabah ini dari masa ke masa. Namun hal yang sama terjadi adalah bahwa virus ini berkembang karena ada traveling, ada perpindahan dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya dan cara untuk memutus rantai penularannya atau proses traveling virus tersebut adalah dengan PSBB, lockdown tapi ya intinya tetap pada manusianya, kalau kita semua disiplin dengan aturan maka kita bisa lebih cepat terhindar dari Covid-19," ungkapnya.

Manusia kata dia, adalah media traveling virus itu. Maka cara memotong proses penularannya adalah manusia, kita semua berdiam dirumah saja, menjaga jarak dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

Setelah seminar, FIB Unhas membagikan sembako kepada mahasiswa dan masyarakat yang terdampak wabah covid-19. Pembagian dilakukan di gedung Dekanat FIB Unhas.

Turut hadir pula Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan, Prof. Arsunan Arsin, menyerahkan bingkisan sembako kepada masyarakat. Lalu berurutan paket sembako diserahkan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraraan FIB, Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan dan Sumber Daya Manusia, Kepala Tata Usaha FIB, Kasubag Perlengkapn FIB dan Ketua Panitia Bina Desa Tematik Covid-19 Burhan Kadir juga turut menyerahkan paket bantuan kepada "mace-mace" kantin FIB dan mahasiswa.

Ketua Panitia, Burhan Kadir mengatakan, sasaran bantuan ini adalah masyarakat yang telah didata sebelumnya yang betul-betul layak diberi bantuan. Begitu pula dengan mahasiswa yang masih bertahan di kos-kos mereka, karena tidak bisa pulang kampung, juga para mace-mace penjual di kantin Kolong FIB mereka paling terdampak pandemi ini.

“Kegiatan ini adalah sebagai wujud pengabdian masyarakat, sebuah hal yang wajib dilakukan perguruan tinggi saat masa-masa pandemi seperti ini. Jadi tahun ini ada 2 rangkaian kegiatan dalam Program pengabdian masyarakat Bina Desa Tematik Covid-19. Pertama ada seminar nasional tentag kearifan lokal untuk menangkal penyebaran virus dan refleksi pandemi Flu Spanyol Masa Hindia Belanda dan kegiatan kedua Penyaluran Bantuan Sembako pada Mahasiswa dan Masyarakat," ungkap Burhan.