Redaksi : Rabu, 29 April 2020 22:45
Surat tulisan tangan Putu Purnami Yanti.

MAKASSAR, BUKAMATA - Ni Luh Lestari masygul. Dari jendela, dia melihat tubuh sahabatnya, Putu Purnami Yanti (20) terayun-ayun. Lehernya terjerat di seutas kain putih yang terikat di lubang angin kamar kos Pondok Putri Mulia Indah, Jl Perintis Kemerdekaan 7, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Selasa (28/4/2020).

Dia mengenakan baju kaus putih, dipadu celana jins. Tubuhnya menghadap ke tembok bercat hijau.

Polisi tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

"Jadi kami lakukan visum luar, kami tidak temukan tanda-tanda kekerasan lain kecuali ada jejas di leher yang perkuat dugaan kita yang bersangkutan meninggal karena ada jeratan di leher akibat penggantungan. Dia gunakan seutas kain," jelas Kaur Doksik Biddokkes Polda Sulsel dr Ridho bilang.

Di sekitar korban, tim forensik juga mendapati selembar surat milik korban dan telah diserahkan kepada penyidik Polsek Tamalanrea.

"Ada tadi kami amankan surat, kami belum jelas sudah diserahkan ke penyidik," tutur Ridho.

Surat itu ditulis tangan mahasiswi STMIK Dipanegara asal Desa Kertoraharja, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur itu. Ada beberapa tinta yang meleleh kena cairan. Diduga itu air mata Putu.

Dalam suratnya, Putu meminta maaf kepada kedua orang tuanya, dan mengikhlaskan kepergiannya. Dia juga meminta keluarganya untuk tidak menyalahkan siapa-siapa atas kepergiannya.

Begini isi surat lengkap Putu.

Om Swastyastu ...

Saya atas nama "Putu Purnami Yanti" dengan ini saya membuat surat ini untuk mewakili isi hati saya yang terakhir kalinya ini. Saya meminta maaf sebelumnya kepada kedua orang tua saya bapak, mama.

Saya minta maaf atas kesalahan yang pernah saya perbuat sebelumnya yang membuat kecewa, atau sebagainya saya minta minta maaf karena belum bisa membahagiakan bapak, mama.

Dan saya mohon bapak, mama, nenek dan adik-adik Kaka ini keluarga ku semuanya untuk jangan bersedih atas kepergian Ki ini. Dan saya sudah melakukan hal yang tdk sepantasnya dilakukan yaitu dgn cara bunuh diri.

Jadi, bantulah saya pergi dan ikhlaskan lah dan sekali lg saya minta maaf krn belum bisa menjadi yg terbaik dan membahagiakan kalian semua.

Dan saya lakukan ini (bunuh diri) bukan atas kesalahan siapa-siapa tetapi ini hanya dari niat ku untuk mengakhiri hidup ku hanya mampu menjalani nya sampai di semester 4 ini.

Dan saya juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada kedua orang tua ku yg sudah menjaga dan merawat saya hingga pada saat ini sudah membiayai ku kuliah dan saya jg belum membalas semua itu. Jadi sekali lagi, tolong jng salahkan siapa pun itu atas kepergian saya ini... Dan saya pamit untuk pergi selamanya di dunia ini.

Dan untuk temanku “Ayu”, “Tari”, saya minta maaf juga kepada kalian kalau ada salahku selama ini bersama kalian. Dan saya juga tak lupa untuk berterima kasih kepada kalian ayu, tari, karena sudah banyak membantuku disaat saya kesusahan.

Dan saya juga bersyukur sekali ketemu kalian dikampus, karena kalian baik sekali kepada saya. Maafkan saya ayu, tari belum bisa membalas kebaikan yang pernah kalian lakukan kepada saya.

Terima kasih ayu, tari atas kebersamaan yang kita lakukan selama 4 semester ini baik itu suka duka, senang kita lalui bersama. Hal yang takkan kulupakan ketika kita saat bersama, baik itu tidur bareng, berbagi cerita, kerja tugas bareng, dan kemana’ kita selalu bareng-bareng nda pernah pisah ...... thanks ya ayu, tari, semoga kalian cepat wisuda....

Dan terakhir pesanku kepada pacar saya “Dewa Ari” saya minta maaf atas kesalahan yang pernah saya perbuat kepada kamu itu sering membuatmu kecewa, marah, kesal, dan sebagainya saya mohon maaf.

Dan saya nitip pesan sama kamu tolong lupakanlah aku, iklhaskan lah atas kepergianku ini, saya minta sama kamu jadilah laki-laki yang baik, setia, dan bertanggung jawab itu permintaanku. Makasih juga kamu sudah menemaniku selama 22 bulan.