Ini Daftar Santri dan TPA Terbaik Munaqasyah Wisuda Santri XXIX LPPTKA-BKPRMI Makassar
25 Oktober 2026 11:01
Pemkab Maros terus mengerahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama pemangku kepentingan terkait untuk membantu warga yang mengalami keterbatasan pasokan air.
MAROS, BUKAMATANEWS – Ancaman krisis air bersih di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kian serius seiring berlanjutnya musim kemarau. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros kini memperkuat langkah antisipasi untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi di tengah menurunnya ketersediaan air baku.

Bupati Maros, Andi Syafril Chaidir Syam, mengatakan kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi memperluas wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Dari empat instalasi pengolahan air (IPA) milik Perumda Air Minum Tirta Bantimurung, hanya dua yang masih beroperasi, yakni IPA Bantimurung dan IPA Amarang di Kecamatan Tanralili.
Kondisi ini menunjukkan besarnya tekanan kemarau terhadap sistem penyediaan air bersih di Maros. Bahkan, IPA Amarang yang masih beroperasi dengan kapasitas sekitar 60 liter per detik juga menghadapi kondisi sumber air yang semakin kritis.

Situasi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk memaksimalkan berbagai sumber daya yang tersedia, termasuk memperkuat distribusi bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak.
Distribusi Air Bersih Terus Diperkuat
Chaidir Syam menegaskan, penanganan kekeringan menjadi perhatian pemerintah daerah agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Pemkab Maros terus mengerahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama pemangku kepentingan terkait untuk membantu warga yang mengalami keterbatasan pasokan air.
Distribusi air bersih menjadi langkah darurat yang penting, terutama bagi masyarakat di wilayah yang sumber airnya mulai mengering atau tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Pemerintah daerah juga melanjutkan penyaluran bantuan air bersih melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang telah memasuki tahap lanjutan.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga akses masyarakat terhadap air bersih selama kemarau belum berakhir.
Dua Instalasi Masih Beroperasi
Terbatasnya instalasi pengolahan air yang masih beroperasi menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Maros. Ketika sumber air baku terus menyusut, kemampuan sistem penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga menghadapi tekanan.
Kondisi IPA Amarang menjadi salah satu perhatian karena meskipun masih mampu menghasilkan sekitar 60 liter air per detik, sumber airnya dilaporkan sudah sangat kritis.
Jika kondisi tersebut terus memburuk, risiko gangguan pasokan air bersih berpotensi meningkat dan menjangkau lebih banyak wilayah.
Karena itu, penanganan tidak hanya mengandalkan distribusi air menggunakan mobil tangki, tetapi juga membutuhkan pemantauan kondisi sumber air dan optimalisasi layanan yang masih beroperasi.
Warga Diimbau Hemat Air
Di tengah ancaman kekeringan, Chaidir Syam mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan mengutamakan kebutuhan pokok.
Penghematan air menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan bersama untuk mengurangi tekanan terhadap ketersediaan air selama musim kemarau.
Pemkab Maros berharap hujan mulai turun pada November hingga Desember 2026 sehingga kondisi sumber air dapat berangsur pulih.
Sembari menunggu perubahan cuaca, pemerintah daerah memastikan upaya penanganan terus dilakukan agar dampak kemarau terhadap kehidupan masyarakat dapat ditekan.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memerlukan kesiapsiagaan, pengelolaan sumber daya yang baik, serta kerja sama pemerintah dan masyarakat, terutama ketika kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
25 Oktober 2026 11:01
25 Oktober 2026 10:34
24 Oktober 2026 20:27
24 Oktober 2026 16:26
24 Oktober 2026 09:10
25 Oktober 2026 10:34
25 Oktober 2026 11:01