Redaksi
Redaksi

Kamis, 20 Agustus 2026 21:51

Jenazah Pemuda Maros yang Dibunuh di Armenia Dipastikan Dipulangkan, Biaya Ditanggung Pemerintah

Jenazah Pemuda Maros yang Dibunuh di Armenia Dipastikan Dipulangkan, Biaya Ditanggung Pemerintah

Chaidir mengatakan Pemkab Maros memberikan perhatian serius terhadap proses pemulangan jenazah Valenth. Menurutnya, pemerintah daerah bersama masyarakat Maros turut berduka atas meninggalnya Valenth yang diketahui bekerja di Armenia.

MAROS, BUKAMATANEWS — Kabar kepastian biaya pemulangan menjadi angin segar bagi keluarga Valenth A Tambuto (24), pemuda asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang meninggal dunia setelah menjadi korban pembunuhan di Kota Yerevan, Armenia. Pemerintah memastikan seluruh biaya pemulangan jenazah dari Armenia hingga ke Maros akan ditanggung pemerintah.

Kepastian tersebut disampaikan Bupati Maros Chaidir Syam setelah mendampingi adik korban, Arnold Tambuto, menemui Anggota Komisi IX DPR RI Uya Kuya dan Ashabul Kahfi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Pertemuan tersebut secara khusus membahas perkembangan penanganan kasus sekaligus proses pemulangan jenazah Valenth. Dalam kesempatan itu, Uya Kuya turut menghubungi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI untuk memperoleh informasi terbaru terkait penanganan kasus tersebut.

Chaidir mengatakan Pemkab Maros memberikan perhatian serius terhadap proses pemulangan jenazah Valenth. Menurutnya, pemerintah daerah bersama masyarakat Maros turut berduka atas meninggalnya Valenth yang diketahui bekerja di Armenia.

"Ya hari ini saya langsung mendampingi Arnold adik dari almarhum Valenth. Kami atas nama pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Maros sangat merasa prihatin dan sangat sedih atas meninggalnya salah satu warga kami yang menjadi tenaga kerja di luar negeri di Armenia," ujar Chaidir dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).

Ia menjelaskan, kedatangannya bersama Arnold ke Jakarta merupakan bagian dari upaya memastikan proses pemulangan jenazah berjalan dengan baik. Pemkab Maros juga berkoordinasi dengan pihak-pihak yang sejak awal turut mengawal kasus tersebut.

"Kami langsung membawa adik dari almarhum Valenth, adik Arnold, untuk menemui langsung Bapak Uya Kuya, di mana Bapak Uya Kuya ini dari awal mengawal kasus ini dan kami diterima langsung di Fraksi Partai Amanat Nasional," katanya.

Kemlu Koordinasi dengan Otoritas Armenia

Dalam pertemuan tersebut, Uya Kuya langsung berkomunikasi dengan pihak Kemlu RI guna mengetahui perkembangan penanganan kasus Valenth.

Chaidir mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dalam komunikasi tersebut, perwakilan Indonesia di Armenia masih terus berkoordinasi dengan otoritas setempat. Konsulat RI di Armenia juga disebut telah dua kali mendatangi lokasi kejadian untuk berkoordinasi dengan pihak berwenang.

"Dia (Uya Kuya) langsung menelepon Kementerian Luar Negeri, Ibu Heni, dan kita mendengarkan langsung bahwa saat ini terus melakukan koordinasi di Armenia. Sudah dua kali konsulat kita di sana mendatangi lokasi kejadian, berkoordinasi dengan pihak Armenia bagaimana perkembangannya," jelas Chaidir.

Selain koordinasi terkait kasus, proses administrasi pemulangan jenazah juga masih berlangsung. Pemerintah masih menunggu kepastian hasil penyelidikan dari kepolisian Armenia sebelum proses pemulangan dapat dilakukan.

"Pada saat ini terus dilakukan pemberkasan atau penyelesaian administrasi almarhum Valenth di sana sambil menunggu kepastian hasil penyelidikan dari pihak kepolisian di Armenia," tuturnya.

Biaya Pemulangan Ditanggung Pemerintah

Di tengah ketidakpastian waktu pemulangan, keluarga korban mendapat kabar yang melegakan. Chaidir mengatakan Kemlu RI memastikan biaya pemulangan jenazah Valenth dari Armenia hingga Kabupaten Maros akan ditanggung pemerintah.

Menurutnya, kepastian tersebut menjadi kabar baik bagi keluarga yang sebelumnya masih menghadapi ketidakjelasan mengenai pembiayaan proses pemulangan.

"Pada kesempatan kali itu kami sangat gembira mendengarkan bahwa pihak Kementerian Luar Negeri akan menanggung seluruh biaya kepulangan jenazah almarhum Valenth dari Armenia sampai ke Kabupaten Maros. Ini sebuah kebahagiaan di tengah simpang siur bagaimana dengan proses pembiayaan," ungkapnya.

Meski biaya pemulangan telah dipastikan, waktu kepulangan jenazah Valenth belum dapat ditentukan. Pemkab Maros masih menunggu perkembangan penyelidikan dan proses administrasi yang dilakukan pihak berwenang di Armenia.

"Untuk kepastian pemulangannya kita masih menunggu kepastian dari pihak Armenia dan kita berdoa semoga secepatnya jenazah Valenth ini bisa segera dipulangkan ke Kabupaten Maros," pungkas Chaidir.

Sempat Berkomunikasi Sebelum Kabar Duka

Valenth diketahui bekerja di Armenia di bidang teknologi informasi pada sebuah perusahaan konsultan IT. Kabar mengenai meninggalnya pemuda tersebut pertama kali diterima keluarganya pada Rabu (15/7) malam.

Adik korban, Arnold Tambuto, mengatakan dirinya masih sempat berkomunikasi dengan Valenth beberapa jam sebelum kabar duka tersebut diterima keluarga.

"Iya benar kakak saya yang meninggal di Armenia. Almarhum bekerja di sana di bidang IT di perusahaan konsultan IT," ujar Arnold kepada wartawan, dilansir detikSulsel, Minggu (19/7).

Arnold menuturkan komunikasi terakhir dengan kakaknya berlangsung pada Rabu (15/7) dini hari sekitar pukul 01.00 Wita atau Selasa (14/7) malam waktu Armenia. Setelah komunikasi tersebut, Valenth tidak lagi dapat dihubungi melalui aplikasi percakapan.

Hingga kini, pihak keluarga masih menunggu proses penyelidikan di Armenia serta kepastian jadwal pemulangan jenazah agar Valenth dapat kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Maros.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Pemkab Maros #Bupati Maros Chaidir Syam