Wagub Sulsel Lepas Ekspedisi Rupiah Berdaulat ke Lima Pulau
14 Oktober 2026 21:14
Rupiah tertekan di kisaran Rp17.914 per dolar AS pada perdagangan 14 Oktober 2026. Simak sentimen global yang membayangi kurs rupiah.
JAKARTA, BUKAMATANEWS — Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah bergerak di kisaran Rp17.914 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Pergerakan ini menyoroti tantangan yang masih dihadapi mata uang Garuda di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan inflasi, serta meningkatnya risiko geopolitik yang memengaruhi sentimen pasar keuangan dunia.
Dinamika tersebut menjadi perhatian investor karena arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan pergerakan mata uang negara berkembang.
Sentimen Global Bayangi Pergerakan Rupiah

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang turut memengaruhi harga minyak dunia. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan menambah tekanan terhadap negara pengimpor minyak.
Pada perdagangan Rabu, harga minyak dunia kembali menguat di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Brent tercatat naik 0,8 persen menjadi US$106,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,9 persen menjadi US$94,94 per barel.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan data inflasi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan memengaruhi pergerakan dolar AS.
Pasar Menanti Arah Pergerakan Berikutnya
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan kondisi ekonomi domestik. Perkembangan harga energi, arah kebijakan The Fed, serta respons investor terhadap risiko global menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah yang berlangsung berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang baku, energi, dan kebutuhan lain yang dibayar menggunakan dolar AS. Dampaknya terhadap inflasi domestik akan bergantung pada durasi pelemahan kurs, pergerakan harga komoditas, serta kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya.
Meski demikian, pergerakan kurs pada satu waktu perdagangan belum cukup untuk menggambarkan tren rupiah secara keseluruhan. Pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan kurs sepanjang perdagangan dan data ekonomi terbaru untuk menilai arah mata uang Garuda berikutnya.
14 Oktober 2026 21:14
14 Oktober 2026 21:03
14 Oktober 2026 17:21