Wagub Sulsel Lepas Ekspedisi Rupiah Berdaulat ke Lima Pulau
14 Oktober 2026 21:14
Pemkot Makassar memperketat antisipasi kabut asap dan PM2.5 kategori sangat tidak sehat. Pembagian masker dilakukan, kasus ISPA dipantau, PJJ disiapkan jika udara memburuk.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Kabut asap yang menyelimuti langit Kota Makassar menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Di tengah memburuknya kualitas udara akibat tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5, pemerintah mulai memperkuat langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak di lingkungan sekolah.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, menginstruksikan rapat koordinasi lintas sektor guna merespons kondisi tersebut. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sekolah daring apabila kualitas udara mencapai kategori berbahaya.
Rapat koordinasi digelar di Kantor Balai Kota Makassar, Rabu (14/10/2026), dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, bersama jajaran perangkat daerah dan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Meski tidak hadir langsung dalam rapat tersebut, Appi menegaskan bahwa perkembangan kualitas udara terus dipantaunya. Koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait juga diperkuat untuk memastikan kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi terkini.

"Saya terus memantau perkembangan kabut asap di Makassar. Koordinasi lintas SKPD dan lintas instansi, termasuk dengan BMKG terkait kondisi cuaca, terus kita lakukan untuk mengikuti perkembangan situasi," kata Appi.
Menurutnya, langkah antisipasi diperlukan untuk meminimalkan dampak pencemaran udara, termasuk yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
PJJ Disiapkan, Pemkot Belum Putuskan Sekolah Daring
Perlindungan terhadap siswa menjadi salah satu prioritas Pemkot Makassar di tengah memburuknya kualitas udara. Appi meminta Dinas Pendidikan tetap siaga dan menyiapkan skenario penyesuaian kegiatan belajar mengajar apabila kondisi udara semakin memburuk.
Meski demikian, pemerintah belum memutuskan penerapan sekolah daring. Kebijakan tersebut akan dipertimbangkan berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara dan tingkat risiko terhadap kesehatan siswa.
"Kita menunggu status dari pemantauan seperti apa. Jika kategori berbahaya, maka kebijakan kita ambil sesuaikan dengan tingkat risiko di lapangan," tegas Appi.
Sebagai langkah awal, Pemkot Makassar telah melakukan pembagian masker di sekolah-sekolah. Upaya tersebut dilanjutkan pada Rabu (14/10/2026), termasuk melalui kunjungan Sekda Makassar Andi Zulkifly Nanda bersama Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, ke SMP Negeri 6 Makassar untuk membagikan masker kepada siswa.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko paparan partikel halus ketika siswa menjalani aktivitas di lingkungan sekolah.
BMKG Sebut Kualitas Udara Makassar Sangat Tidak Sehat
Sekda Makassar Andi Zulkifly Nanda menjelaskan, rapat koordinasi tersebut digelar atas instruksi langsung Wali Kota untuk memvalidasi kondisi kualitas udara sekaligus mengidentifikasi sumber pencemaran.
"Ini merupakan instruksi langsung dari Bapak Wali Kota Makassar agar kita segera melaksanakan rapat bersama SKPD dan unsur terkait, termasuk menggandeng BMKG, untuk melihat sejauh mana pencemaran udara yang terjadi di Kota Makassar," ujar Zulkifly.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan dalam rapat, kualitas udara Makassar berada dalam kategori sangat tidak sehat selama dua hari terakhir.
Menurut penjelasan BMKG dalam rapat tersebut, pencemaran udara di Makassar diduga sebagian besar dipengaruhi kiriman asap kebakaran hutan dan lahan dari sejumlah wilayah. Arah angin timur hingga tenggara disebut turut membawa asap menuju kawasan Makassar.
"Jadi, sumbernya bisa kita katakan sebagian besar merupakan kiriman. Walaupun di Kota Makassar sendiri juga terdapat polusi udara akibat banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang. Aktivitas transportasi ini turut menambah pencemaran," jelasnya.
Meski demikian, Pemkot Makassar tetap memantau kemungkinan sumber pencemaran lain di dalam kota, termasuk emisi kendaraan bermotor yang dapat menambah beban polusi udara.
Kasus ISPA Belum Meningkat Signifikan
Di tengah kondisi tersebut, Pemkot Makassar juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan berisiko memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada kelompok rentan.
Appi meminta Dinas Kesehatan bersama seluruh puskesmas meningkatkan pemantauan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kesiapan fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan oksigen medis di rumah sakit umum daerah (RSUD) dan puskesmas, juga diminta untuk dipastikan.
"Selain memperkuat pemantauan kondisi kesehatan warga, RSUD dan Puskesmas juga saya minta memastikan kesiapan stok oksigen medis sebagai langkah antisipasi," imbuh Appi.
Zulkifly menyebutkan, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, hingga rapat koordinasi berlangsung belum terdapat peningkatan kasus ISPA yang signifikan di puskesmas.
Namun, pemerintah tidak ingin mengabaikan risiko apabila pencemaran udara berlangsung dalam waktu lama. Dinas Kesehatan diminta menyampaikan laporan perkembangan kasus ISPA setiap hari sebagai dasar evaluasi dampak terhadap masyarakat.
"Kalau kondisi ini berkepanjangan, tentu ada potensi kedaruratan medis. Namun, berdasarkan masukan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan BMKG, saat ini belum terjadi kondisi yang mengharuskan sekolah diliburkan," kata Zulkifly.
Dengan kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar masih berjalan seperti biasa. Pemerintah akan mengevaluasi kebijakan berdasarkan perkembangan kualitas udara dan laporan kesehatan masyarakat.
Informasi Kualitas Udara Akan Diperbarui Lewat Aplikasi Lontara
Selain pembagian masker dan pemantauan kesehatan, Pemkot Makassar menyiapkan penguatan penyampaian informasi kualitas udara kepada masyarakat melalui aplikasi Lontara.
Zulkifly meminta Dinas Komunikasi dan Informatika berkoordinasi dengan BMKG serta Dinas Lingkungan Hidup untuk menyajikan pembaruan hasil pengukuran kualitas udara setiap hari melalui platform tersebut.
Informasi ini diharapkan membantu masyarakat mengetahui kondisi udara sebelum beraktivitas di luar rumah dan menyesuaikan kegiatan berdasarkan tingkat pencemaran.
"Ini sangat penting diketahui masyarakat. Dengan melihat status dan ukuran kualitas udara, masyarakat bisa mengetahui kondisi yang sedang terjadi sehingga dapat menyesuaikan aktivitasnya," tuturnya.
Pemkot Makassar juga mengimbau masyarakat menggunakan masker saat berada di luar ruangan dan mengurangi aktivitas fisik berat ketika kualitas udara memburuk.
Pemerintah memastikan pembagian masker telah dilakukan sejak sehari sebelumnya dan berlanjut pada Rabu. Berdasarkan laporan yang diterima Sekda, persediaan masker dari Dinas Kesehatan tersedia untuk mendukung langkah pencegahan tersebut.
Pemkot Makassar menyatakan akan terus memantau perkembangan kualitas udara bersama instansi terkait. Hasil pemantauan itu akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan penyesuaian kegiatan belajar mengajar jika kondisi udara mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan.
14 Oktober 2026 21:14
14 Oktober 2026 21:03
14 Oktober 2026 17:21