Redaksi : Kamis, 24 September 2026 17:02

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Perumda Air Minum Kota Makassar menyiapkan solusi jangka panjang untuk memperkuat pasokan air baku melalui rencana pembangunan bendung karet di Sungai Tallo. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menekan intrusi air laut sekaligus menjaga kestabilan pasokan air bersih bagi masyarakat.

Usulan pembangunan bendung karet itu telah disampaikan kepada Wali Kota Makassar dan tengah dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, mengatakan bendung karet diperlukan untuk mengendalikan masuknya air laut ke Sungai Tallo. Pengendalian tersebut diharapkan dapat menurunkan kadar Total Dissolved Solids (TDS) atau total padatan terlarut dalam air baku.

Dengan kadar TDS yang lebih terkendali, Intake Manggala di kawasan Moncongloe diharapkan mampu beroperasi secara lebih stabil. Pompa tidak perlu berulang kali dihentikan ketika kualitas air baku mengalami penurunan akibat intrusi air laut.

"Saya sudah sampaikan ke Pak Wali Kota, dan lagi kami berkoordinasi ke Kementerian PU untuk pembangunan bendungan karet di Sungai Tallo," kata Andi Syahrum, Kamis (24/9/2026).

"Ini solusi jangkah panjang kebutuhan air baku, itu bisa menahan air laut masuk, sehingga TDS-nya bisa menurun dan pompa kita di Intake Manggala bisa 24 jam beraktivitas," sambung Andi Syahrum.

Pompa Intake Manggala Masih Bergantung pada Kualitas Air

Andi Syahrum menjelaskan, pengoperasian pompa di Intake Manggala selama ini masih menyesuaikan kondisi kualitas air baku. Ketika kadar TDS meningkat, pompa harus dihentikan sementara untuk mengantisipasi dampak kualitas air terhadap proses pengambilan air baku.

Kondisi tersebut membuat pengoperasian pompa belum dapat berjalan secara optimal sepanjang waktu.

"Selama ini kita buka-tutup. Kalau misalnya Total Dissolved Solids (TDS) naik, kita tutup dulu pompanya. Sehingga perlu ada bendungan karet untuk menaikkan dan mengatur tinggi air di sungai secara fleksibel dan dimanfaatkan secara optimal," jelasnya.

Menurut Andi Syahrum, pembangunan bendung karet dapat menjadi instrumen pengaturan ketinggian air Sungai Tallo secara lebih fleksibel. Dengan demikian, pemanfaatan sumber air baku di kawasan tersebut berpotensi ditingkatkan, terutama ketika kebutuhan air masyarakat meningkat.

Bidik Suplai hingga 1.000 Liter per Detik

Pemanfaatan Sungai Tallo sebagai sumber air baku baru diperkirakan memiliki potensi suplai sekitar 600 hingga 1.000 liter per detik apabila kadar TDS dapat dikendalikan.

Andi Syahrum menilai potensi tersebut dapat menjadi tambahan penting bagi sistem penyediaan air bersih Kota Makassar. Terlebih, ketersediaan sumber air alternatif menjadi semakin strategis saat musim kemarau dan ketika debit sumber air utama mengalami penurunan.

"Kalau misalnya sudah ada bendung karet di situ, berarti 600 terus-menerus, 600 liter per detik. Ini bisa menjadi solusi air baku untuk kebutuhan masyarakat," ungkapnya.

Ia berharap keberadaan bendung karet dapat membuat pasokan air baku dari Sungai Tallo tersedia secara lebih konsisten. Namun, realisasi kapasitas suplai tetap bergantung pada kondisi teknis infrastruktur, kualitas air, dan hasil kajian yang diperlukan.

Selain meningkatkan pasokan air baku, Andi Syahrum menilai pemanfaatan Sungai Tallo dapat memberikan keuntungan dari sisi kedekatan sumber air dengan Intake Manggala.

Selama ini, salah satu sumber air utama Perumda Air Minum Kota Makassar berasal dari Bendung Lekopancing di Kabupaten Maros. Sumber tersebut menjadi bagian dari sistem penyediaan air untuk wilayah pelayanan Makassar.

Andi Syahrum mengatakan jarak sumber air dari Lekopancing menuju kawasan Moncongloe mencapai sekitar 20 kilometer. Dalam perjalanan menuju wilayah pelayanan, ia menyebut volume air yang dapat dimanfaatkan mengalami penyusutan hingga tersisa sekitar 40 persen.

"Kalau jadi program kementerian untuk memasang bendung karet, saya secara pribadi dan secara teknis mengamati bahwa kita ambil dari Lekopancing," katanya.

Ia menambahkan, kebutuhan minimal air baku untuk mendukung pelayanan di kawasan utara dan timur Makassar berada di kisaran 300 liter per detik.

Dengan potensi suplai sekitar 600 liter per detik dari Sungai Tallo, kebutuhan tersebut dinilai memiliki peluang untuk ditopang melalui sumber air yang lebih dekat dengan kawasan pelayanan.

"Dulu Lekopancing sebelum ada Moncongloe itu 100. Sehingga utara, timur berteriak karena memang tidak sampai, tidak bisa sampai airnya ke sana. Tetapi kalau Intake Manggala ini bisa sampai 600," jelasnya.

Di sisi lain, Andi Syahrum menegaskan persoalan pelayanan air bersih di Makassar tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber air baku. Menurutnya, tantangan juga terdapat pada sistem jaringan distribusi dan kondisi teknis pipa yang mengalirkan air kepada pelanggan.

Ia menilai kapasitas sumber air baku yang tersedia pada dasarnya masih mencukupi. Namun, kondisi jaringan distribusi yang belum optimal menyebabkan air tidak dapat menjangkau seluruh wilayah pelayanan secara merata.

"Sebenarnya kebutuhan air, sumber air kita itu, air baku, mencukupi. Mencukupi, cuma jaringan yang di bawah ini laba-laba. Banyak jaringan di bawah ini tidak ada airnya, kosong," tuturnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan sistem penyediaan air bersih membutuhkan penanganan yang terintegrasi. Penambahan sumber air baku perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas pengolahan, perbaikan jaringan distribusi, serta penanganan kendala teknis pada sistem perpipaan.

Antisipasi Kemarau dan Kebutuhan Air Masyarakat

Rencana pembangunan bendung karet di Sungai Tallo diharapkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Perumda Air Minum Kota Makassar dalam memperkuat ketahanan pasokan air bersih.

Sumber air baku alternatif yang lokasinya lebih dekat dengan Intake Manggala berpotensi mendukung pelayanan di wilayah utara dan timur Makassar. Di saat yang sama, pengendalian intrusi air laut menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas air baku yang diambil dari Sungai Tallo.

Andi Syahrum menyatakan pemanfaatan sumber air alternatif dan pengendalian intrusi air laut dapat membantu menghadapi tantangan penyediaan air bersih pada masa mendatang, khususnya ketika terjadi kekeringan berkepanjangan.

"Adanya sumber air baku alternatif yang lebih dekat serta pengendalian intrusi air laut melalui bendung karet, kami yakini ketahanan pasokan air bersih masyarakat dapat diperkuat, terutama untuk menghadapi ancaman kekeringan pada tahun-tahun mendatang," tutup Andi Syahrum.